Pertama adalah keunikannya yang sangat kuat menampilkan warna etnis tradisional dan seni budaya suku gorontalo. Kedua kenyamanan bagi pemakainya, karena terbuat dari anyaman mintu, songkok ini tidak terasa panas meski lama dikenakan. ketiga, bahan baku pembuatannya yaitu kulit kayu Pohon Mintu yang konon hanya ada di hutan Gorontalo. Pohon Mintu, yang hanya tumbuh di hutan – hutan Gorontalo itu t
ak ubahnya seperti pohon rotan liar. Berbeda dengan rotan yang keras dan getas, sulur – sulur pohon Mintu tampak lebih lentur dan benyak mengandung air. Untuk membuat songkok ini terlebih dahulu sulur Mintu dikeringkan di bawah matahari sampai warna kulitnya kecoklatan. Lalu dengan sangat hati – hati, kulit tersebut dilepaskan dari batangnya dengan menggunakan pisau khusus. Sedangkan bagian dalam batangnya yang mirip batang bambu dibelah – belah sebesar lidi. Setelah seluruh proses persiapan bahan selesai, barulah penganyaman songkok dilakukan. Menggunakan lidi yang terbuat dari bilah – bilah Mintu, Songkok ini mendapatkan kerangka yang membuatnya tidak mudah berubah bentuk. Lidi Mintu yang biasanya sangat panjang itu kemudian dianyam dengan kulit batangnya sehingga terbentuklah songkok seperti yang dikehendaki pengrajin. Bentuk Songkok khas Gorontalo ini bervariasi, ada yang berbentuk seperti kopiah konvensional ada p**a yang berbentuk bulat. Apapun bentuknya, keunikan yang diciptakan oleh gradasi warna kulit Mintu tak pernah kehilangan pesonanya. Inilah yang membuat Songkok khas Gorontalo sangat digemari oleh pengunjung daerah ini. Seperti kebanyakan kerajinan khas daerah se – Nusantara, Songkok khas Gorontalo ini tidak terlalu mudah ditemui di pertokoan. Di pasar – pasar tradisional pun agaknya semakin sulit di temukan. Disamping tingkat produksinya sangat tergantung pada semakin sedikitnya jumlah pengrajin (Kebanyakan berada di daerah pelosok), bahan baku yang berasal dari pohon Mintu pun hanya ada di Gorontalo.