15/05/2025
Suamiku menghilang secara MISTERIUS saat malam hari, ia pamit mencari belut namun ternyata…
Kamu Dimana, Mas? (Misteri Hilangnya Suamiku)
Part 2
Pencarian
Selepas sholat subuh, Sekar menyambar jilbabnya yang mulai usang dan mengambil Tirta yang masih terlelap di atas bayang. Ia menggendongnya dengan menggunakan jarik, sesekali anak kecil itu menggeliat. Namun karena ia tahu bahwa yang menggendongnya adalah ibunya sendiri, bocah kecil itu kembali terlelap.
Dengan tanpa mengenakan alas kaki, Sekar bergegas menuju sawah untuk mencari keberadaan suaminya. Tak dipedulikannya kerikil tajam yang melukai telapak kakinya, ia berjalan dengan sesekali berlari kecil agar segera sampai di pematang sawah, tempat dimana suaminya biasanya menangkap belut.
Ia turun ke sawah, menyusuri setiap petak sawah Pak Joyo. Tak dipedulikannya lumpur yang ia lalui, sesekali ia hampir terhuyung namun ia berusaha mengendalikan keseimbangan agar tak terjatuh. Ia ingat betul, ada bocah mungil yang kini ia gendong.
“Kamu dimana, Mas?”
Berkali-kali Sekar memanggil suaminya.
”Mas Aryo!”
“Mas Aryo!”
Suaranya memecah keheningan di pagi buta, bahkan mentari pun masih malu-malu untuk menampakkan sinarnya. Embun yang muncul di setiap helai dedaunan memunculkan kilaunya, menguatkan aroma segar di pagi yang dingin.
“Kamu ngapain disini, Nduk?”
Tiba-tiba Pak Joyo muncul dari jalanan setapak yang menghubungkan setiap petak sawah miliknya, heran akan kehadiran Sekar di sawahnya pagi ini.
“Saya--mencari Mas Aryo, Pak.”
Parau suara Sekar menjawab pertanyaan Pak Joyo.
“Loh, bukannya biasanya suamimu datang jam tujuh pagi. Ini masih jam lima lebih, mana mungkin suamimu sudah nggarap sawah saya. Memangnya Aryo pamit kemana?” tanya Pak Joyo heran.
“Dia pamit untuk menangkap belut, tapi semalam tidak pulang.”
Sekar menjawab dengan suara mulai bergetar, ia tak tahan untuk menumpahkan air mata yang dari tadi ingin tumpah.
“Biasanya memang dia kesini, malam hari memang disini banyak belut yang bersarang. Tapi semalam suamimu tidak kemari. Saya dan anak saya bermalam disini untuk menjaga sawah karena sebentar lagi musim panen. Baiklah, Nak. Jangan terlalu lama berada di lumpur,” ucap Pak Joyo dengan mengulurkan tangannya agar Sekar mau naik.
Dengan wajah terpaksa, Sekar akhirnya menerima uluran tangan Pak Joyo dan naik ke atas.
“Pergilah ke rumah Bu Ngatemi, mungkin suamimu sedang ada disana,” saran Pak Joyo.
Tanpa berkata apa pun, Sekar bergegas melangkahkan kakinya untuk pergi ke rumah mertuanya yang letaknya tak jauh dari sawah Pak Joyo. Hanya butuh waktu sepuluh menit untuk berjalan kesana.
Kakinya penuh dengan lumpur, namun ia tak peduli. Yang ada di otaknya saat ini adalah menemukan suaminya. Bahkan ia tak punya ponsel untuk menghubungi suaminya. Hanya ada satu ponsel kentang yang dimiliki sepasang suami istri itu, dan semalam suaminya membawanya.
“Aw…” seketika Sekar menghentikan langkahnya, kakinya terasa nyeri. Ia mengangkat telapak kakinya, ternyata ada duri dari pohon jeruk purut yang menancap di telapak kakinya. Dengan segera ia mencabutnya dan membuang duri itu ke parit.
Ia menyadari kakinya penuh dengan lumpur, ia memutuskan untuk membasuh kakinya di parit. Dengan hati-hati, Sekar mencelupkan kaki kanannya ke dalam parit dan menggosok-gosokkan perlahan dengan menggunakan rerumputan. Lalu bergantian dengan kaki kirinya.
Namun karena sebuah keseimbangan yang tidak terjaga, Sekar akhirnya terhuyung dan terpeleset ke dalam parit yang tidak cukup dalam. Kepala Tirta terbentur batu yang ada di tepian parit, sehingga membangunkan bocah kecil itu dari tidurnya.
Tirta menangis meraung-raung, merasakan sakit karena benturan itu.
“Maaf, Nak. Ibu tidak sengaja.”
Sekar berseru dan menekan pelan kepala Tirta yang terbentur batu, ada benjol sedikit di kepalanya. Sedangkan baju Sekar telah basah sebagian sampai pinggang.
Ia susah payah naik ke permukaan, mengangkat berat badannya dan juga berat badan anaknya dengan berpegangan pada pinggiran parit.
Daster yang ia kenakan kini tak lagi berlumpur, namun basah kuyup oleh air. Ia memeras ujung dasternya, dingin menyusup tulangnya, ia meruntuki dirinya sendiri. Mengusap air matanya sendiri.
“Kamu dimana, Mas?”
Ia lalu melanjutkan perjalanannya, menapaki setiap jalan setapak untuk menuju ke rumah mertuanya. Bahkan ia hampir tidak pernah kembali dari rumah mertuanya dengan perasaan gembira, setiap habis berkunjung kesana, Sekar selalu mendapati cacian dan makian yang menghujam jantungnya. Menerima dengan lapang adalah pilihan yang harus ia hadapi.
Beberapa saat kemudian, ia telah sampai di depan rumah beton yang cukup mewah. Masih sepi, namun pintu rumah mertuanya itu sudah terbuka. Entah pukul berapa, tapi matahari sudah memunculkan semburat sinarnya, tanda hari sudah mulai terang.
“Assalamu'alaikum, Nyai.”
Sekar mengucap salam, sampai tiga kali hingga seorang perempuan tua keluar dengan mengenakan penutup kepala selendang.
“Ada apa kamu kemari?” tanya Bu Ngatemi, dengan tatapan penuh selidik.
“Eh, pagi-pagi sudah kemari pasti mau minta beras. Biasa itulah mak, kalau dia mau, suruh dia ambil biji jagung atau menir buat pakan ayam. Ada itu di dekat kandang ayam,” seloroh Lastri, anak bungsu Bu Ngatemi yang mengekori ibunya.
“Kau itu, selalu saja menyusahkan. Kalau kau mau, ambil menir yang ada di dekat kandang ayam. Ingat!!! Jangan pernah masuk ke rumahku, apalagi--lihat bajumu yang basah itu. Habis kejebur parit apa kau?”
Ucapan Bu Ngatemi sungguh menyayat hati Sekar. Ia hanya ingin mencari keberadaan suaminya, ia tidak berniat meminta beras karena di rumah masih tersedia beras meski tak banyak. Karena hasil tangkapan belut yang akhir-akhir ini cukup banyak, ia mampu membeli sembako lebih banyak dari biasanya.
“Saya kesini tidak ingin mengemis, Bu Nyai. Saya kesini mencari suami saya,” ucap Sekar dengan keberanian yang dibuat-buat, tentu saja jantungnya bertalu karena biasanya ia hanya mampu membisu.
“Heh, Sekar! Memangnya suamimu pergi kemana? Kau apakan anakku itu?” tanya Bu Ngatemi dengan berkacak pinggang.
“Semalam Mas Aryo pergi menangkap belut, tapi dia belum pulang,”
Jelas Sekar, mencoba menahan air matanya agar tidak tumpah.
“Halah, paling dia sudah bosan sama kamu. Itu sebabnya dulu aku tidak menyetujui pernikahan kalian, tapi Aryo nekat. Jangan-jangan gun4-gun4 yang kau berikan sudah mulai hilang khasiatnya, sehingga anakku itu kabur meninggalkanmu,” ucap Bu Ngatemi dengan mata melotot, sedangkan Lastri cekikikan di sebelahnya.
“Bu Nyai, saya kesini ingin mencari suami saya. Tolong jangan menambah pikiran, dia tidak pulang semalaman dan saya khawatir terjadi apa-apa,” ucap Sekar dengan memilin-milin ujung gendongan anaknya.
“Aryo gak kesini! Paling dia ikut w4nita lain, kalau benar ya syukur lah. Aku ikut senang, daripada hidup sama wanita kayak kamu, hidup miskin dan harus kerja keras untuk mencari sesuap nasi. Coba dulu dia mau aku nikahkan dengan Tia, anak saudagar dari kota, pasti hidupnya berkecukupan karena ia bisa mewarisi harta orang tua Tia.”
Ucapan Bu Ngatemi sangat menyayat hati Sekar, memilih menikah dengan Aryo adalah hal yang tersulit. Orang tuanya memang bukan dari keluarga kaya, ayahnya juga seorang buruh tani dan ibunya hanya pedagang sayur di pasar. Namun ia sangat bersyukur bahwa ia dibesarkan dengan penuh kasih, bukan cacian.
“Baiklah, saya akan pergi jika Mas Aryo tidak ada disini.”
Dengan kecewa, Sekar meninggalkan rumah mertuanya. Hatinya terca bik-ca bik, ia tidak tahu harus mencari suaminya kemana lagi. Akhirnya ia memutuskan untuk…
***
Selengkapnya bisa di baca di K B M app yaa.
Judul : Kamu Dimana, Mas? (Misteri Hilangnya Suamiku)
Penulis : Noviyanti