D'Shop

D'Shop Contact information, map and directions, contact form, opening hours, services, ratings, photos, videos and announcements from D'Shop, Surabaya.

Suamiku menghilang secara MISTERIUS saat malam hari, ia pamit mencari belut namun ternyata… Kamu Dimana, Mas? (Misteri H...
15/05/2025

Suamiku menghilang secara MISTERIUS saat malam hari, ia pamit mencari belut namun ternyata…

Kamu Dimana, Mas? (Misteri Hilangnya Suamiku)

Part 2

Pencarian

Selepas sholat subuh, Sekar menyambar jilbabnya yang mulai usang dan mengambil Tirta yang masih terlelap di atas bayang. Ia menggendongnya dengan menggunakan jarik, sesekali anak kecil itu menggeliat. Namun karena ia tahu bahwa yang menggendongnya adalah ibunya sendiri, bocah kecil itu kembali terlelap.

Dengan tanpa mengenakan alas kaki, Sekar bergegas menuju sawah untuk mencari keberadaan suaminya. Tak dipedulikannya kerikil tajam yang melukai telapak kakinya, ia berjalan dengan sesekali berlari kecil agar segera sampai di pematang sawah, tempat dimana suaminya biasanya menangkap belut.

Ia turun ke sawah, menyusuri setiap petak sawah Pak Joyo. Tak dipedulikannya lumpur yang ia lalui, sesekali ia hampir terhuyung namun ia berusaha mengendalikan keseimbangan agar tak terjatuh. Ia ingat betul, ada bocah mungil yang kini ia gendong.

“Kamu dimana, Mas?”

Berkali-kali Sekar memanggil suaminya.

”Mas Aryo!”

“Mas Aryo!”

Suaranya memecah keheningan di pagi buta, bahkan mentari pun masih malu-malu untuk menampakkan sinarnya. Embun yang muncul di setiap helai dedaunan memunculkan kilaunya, menguatkan aroma segar di pagi yang dingin.

“Kamu ngapain disini, Nduk?”

Tiba-tiba Pak Joyo muncul dari jalanan setapak yang menghubungkan setiap petak sawah miliknya, heran akan kehadiran Sekar di sawahnya pagi ini.

“Saya--mencari Mas Aryo, Pak.”

Parau suara Sekar menjawab pertanyaan Pak Joyo.

“Loh, bukannya biasanya suamimu datang jam tujuh pagi. Ini masih jam lima lebih, mana mungkin suamimu sudah nggarap sawah saya. Memangnya Aryo pamit kemana?” tanya Pak Joyo heran.

“Dia pamit untuk menangkap belut, tapi semalam tidak pulang.”

Sekar menjawab dengan suara mulai bergetar, ia tak tahan untuk menumpahkan air mata yang dari tadi ingin tumpah.

“Biasanya memang dia kesini, malam hari memang disini banyak belut yang bersarang. Tapi semalam suamimu tidak kemari. Saya dan anak saya bermalam disini untuk menjaga sawah karena sebentar lagi musim panen. Baiklah, Nak. Jangan terlalu lama berada di lumpur,” ucap Pak Joyo dengan mengulurkan tangannya agar Sekar mau naik.

Dengan wajah terpaksa, Sekar akhirnya menerima uluran tangan Pak Joyo dan naik ke atas.

“Pergilah ke rumah Bu Ngatemi, mungkin suamimu sedang ada disana,” saran Pak Joyo.

Tanpa berkata apa pun, Sekar bergegas melangkahkan kakinya untuk pergi ke rumah mertuanya yang letaknya tak jauh dari sawah Pak Joyo. Hanya butuh waktu sepuluh menit untuk berjalan kesana.

Kakinya penuh dengan lumpur, namun ia tak peduli. Yang ada di otaknya saat ini adalah menemukan suaminya. Bahkan ia tak punya ponsel untuk menghubungi suaminya. Hanya ada satu ponsel kentang yang dimiliki sepasang suami istri itu, dan semalam suaminya membawanya.

“Aw…” seketika Sekar menghentikan langkahnya, kakinya terasa nyeri. Ia mengangkat telapak kakinya, ternyata ada duri dari pohon jeruk purut yang menancap di telapak kakinya. Dengan segera ia mencabutnya dan membuang duri itu ke parit.

Ia menyadari kakinya penuh dengan lumpur, ia memutuskan untuk membasuh kakinya di parit. Dengan hati-hati, Sekar mencelupkan kaki kanannya ke dalam parit dan menggosok-gosokkan perlahan dengan menggunakan rerumputan. Lalu bergantian dengan kaki kirinya.

Namun karena sebuah keseimbangan yang tidak terjaga, Sekar akhirnya terhuyung dan terpeleset ke dalam parit yang tidak cukup dalam. Kepala Tirta terbentur batu yang ada di tepian parit, sehingga membangunkan bocah kecil itu dari tidurnya.

Tirta menangis meraung-raung, merasakan sakit karena benturan itu.

“Maaf, Nak. Ibu tidak sengaja.”

Sekar berseru dan menekan pelan kepala Tirta yang terbentur batu, ada benjol sedikit di kepalanya. Sedangkan baju Sekar telah basah sebagian sampai pinggang.

Ia susah payah naik ke permukaan, mengangkat berat badannya dan juga berat badan anaknya dengan berpegangan pada pinggiran parit.

Daster yang ia kenakan kini tak lagi berlumpur, namun basah kuyup oleh air. Ia memeras ujung dasternya, dingin menyusup tulangnya, ia meruntuki dirinya sendiri. Mengusap air matanya sendiri.

“Kamu dimana, Mas?”

Ia lalu melanjutkan perjalanannya, menapaki setiap jalan setapak untuk menuju ke rumah mertuanya. Bahkan ia hampir tidak pernah kembali dari rumah mertuanya dengan perasaan gembira, setiap habis berkunjung kesana, Sekar selalu mendapati cacian dan makian yang menghujam jantungnya. Menerima dengan lapang adalah pilihan yang harus ia hadapi.

Beberapa saat kemudian, ia telah sampai di depan rumah beton yang cukup mewah. Masih sepi, namun pintu rumah mertuanya itu sudah terbuka. Entah pukul berapa, tapi matahari sudah memunculkan semburat sinarnya, tanda hari sudah mulai terang.

“Assalamu'alaikum, Nyai.”

Sekar mengucap salam, sampai tiga kali hingga seorang perempuan tua keluar dengan mengenakan penutup kepala selendang.

“Ada apa kamu kemari?” tanya Bu Ngatemi, dengan tatapan penuh selidik.

“Eh, pagi-pagi sudah kemari pasti mau minta beras. Biasa itulah mak, kalau dia mau, suruh dia ambil biji jagung atau menir buat pakan ayam. Ada itu di dekat kandang ayam,” seloroh Lastri, anak bungsu Bu Ngatemi yang mengekori ibunya.

“Kau itu, selalu saja menyusahkan. Kalau kau mau, ambil menir yang ada di dekat kandang ayam. Ingat!!! Jangan pernah masuk ke rumahku, apalagi--lihat bajumu yang basah itu. Habis kejebur parit apa kau?”

Ucapan Bu Ngatemi sungguh menyayat hati Sekar. Ia hanya ingin mencari keberadaan suaminya, ia tidak berniat meminta beras karena di rumah masih tersedia beras meski tak banyak. Karena hasil tangkapan belut yang akhir-akhir ini cukup banyak, ia mampu membeli sembako lebih banyak dari biasanya.

“Saya kesini tidak ingin mengemis, Bu Nyai. Saya kesini mencari suami saya,” ucap Sekar dengan keberanian yang dibuat-buat, tentu saja jantungnya bertalu karena biasanya ia hanya mampu membisu.

“Heh, Sekar! Memangnya suamimu pergi kemana? Kau apakan anakku itu?” tanya Bu Ngatemi dengan berkacak pinggang.

“Semalam Mas Aryo pergi menangkap belut, tapi dia belum pulang,”

Jelas Sekar, mencoba menahan air matanya agar tidak tumpah.

“Halah, paling dia sudah bosan sama kamu. Itu sebabnya dulu aku tidak menyetujui pernikahan kalian, tapi Aryo nekat. Jangan-jangan gun4-gun4 yang kau berikan sudah mulai hilang khasiatnya, sehingga anakku itu kabur meninggalkanmu,” ucap Bu Ngatemi dengan mata melotot, sedangkan Lastri cekikikan di sebelahnya.

“Bu Nyai, saya kesini ingin mencari suami saya. Tolong jangan menambah pikiran, dia tidak pulang semalaman dan saya khawatir terjadi apa-apa,” ucap Sekar dengan memilin-milin ujung gendongan anaknya.

“Aryo gak kesini! Paling dia ikut w4nita lain, kalau benar ya syukur lah. Aku ikut senang, daripada hidup sama wanita kayak kamu, hidup miskin dan harus kerja keras untuk mencari sesuap nasi. Coba dulu dia mau aku nikahkan dengan Tia, anak saudagar dari kota, pasti hidupnya berkecukupan karena ia bisa mewarisi harta orang tua Tia.”

Ucapan Bu Ngatemi sangat menyayat hati Sekar, memilih menikah dengan Aryo adalah hal yang tersulit. Orang tuanya memang bukan dari keluarga kaya, ayahnya juga seorang buruh tani dan ibunya hanya pedagang sayur di pasar. Namun ia sangat bersyukur bahwa ia dibesarkan dengan penuh kasih, bukan cacian.

“Baiklah, saya akan pergi jika Mas Aryo tidak ada disini.”

Dengan kecewa, Sekar meninggalkan rumah mertuanya. Hatinya terca bik-ca bik, ia tidak tahu harus mencari suaminya kemana lagi. Akhirnya ia memutuskan untuk…

***

Selengkapnya bisa di baca di K B M app yaa.

Judul : Kamu Dimana, Mas? (Misteri Hilangnya Suamiku)
Penulis : Noviyanti

Aku hanya meminta segenggam beras pada ibuku namun yang diberikan ibuku padaku hanyalah…SECENTONG NASI DARI IBUKUBeras T...
13/05/2025

Aku hanya meminta segenggam beras pada ibuku namun yang diberikan ibuku padaku hanyalah…

SECENTONG NASI DARI IBUKU

Beras Terakhir

Part 1

“Mas, beras tinggal segenggam. Besok malam sudah mulai sahur, apa ada u a ng untuk beli beras?”

Dengan wajah melas, Gendhis meminta uang kepada suaminya yang sedang duduk di kursi kayu, di rumah sederhana mereka yang hampir mirip gubuk.

Sebuah rumah kayu yang dibangun oleh suaminya sendiri beberapa hari setelah mereka menikah, delapan tahun silam. Rumah kayu yang kini atapnya sering bocor. Tentu saja, atap yang terbuat dari tumpukan jerami itu kerapkali bo cor karena hujan lebat.

Dinding yang terbuat dari anyaman bambu juga mulai menggelembung, bahkan saat malam hari terasa dingin karena angin bisa menyusup di sela-sela dinding.

“Wak Wadak belum ngasih upah hari ini, pengepul batu kali gak jadi datang. Besok kemungkinan akan datang, tunggu saja ya, Dek,” ucap Ramlan, suami Gendhis dengan wajah sendu.

Setiap hari, Ramlan bekerja sebagai pencari batu kali di desanya. Ia bersama teman-teman di desanya pergi dari pagi hingga menjelang siang untuk mengumpulkan batu di bantaran sungai Desa Ngaliduwih.

Menyusuri di sepanjang bantaran sungai, mengambil sebongkah batu berukuran besar dan memecahnya dengan menggunakan palu berukuran raksasa.

Tubuh kekar, warna kulit menghitam dengan telapak tangan yang me le puh sudah menjadi makanan sehari-hari bagi mereka yang mendapatkan uang dengan cara mencari batu kali.

“Apa u p ah minggu lalu juga masih belum dibayarkan, Mas?” tanya Gendhis lagi karena mengingat sudah seminggu suaminya belum memberinya u a ng sepeserpun karena belum diberi u pah oleh Wak Wadak.

“Belum, Dek. Kata Wak Wadak, besok kalau gak besok lusa baru dibayarkan karena menunggu pengepul datang. Besok aku akan mencoba mencabut rumput di kebun Pak Kaji, sepertinya kebun milik Pak Kaji sudah dipenuhi rumput gajah. Besok pagi setelah subuh aku akan menemuinya, setidaknya aku bisa diberi upah untuk membeli beras atau lauk untuk makan sayur besok malam,” ucap Ramlan.

“Semoga saja, ya Mas. Meski sedikit tapi setidaknya kita ada u a ng untuk pegangan,” ucap Gendhis sambil berdoa dalam hati, berharap besok suaminya diberi jalan rejeki lain.

“Atau bagaimana kalau kamu minta Ibumu beras?” saran Ramlan.

Gendhis terdiam seketika, hal yang paling ia takutkan adalah harus meminta bantuan kepada orang tuanya sendiri meski hanya meminta secanting beras.

Bagaimana bisa ia meminta beras pada orang tuanya, apalagi ibunya sangat membenci Ramlan, menantu yang tidak pernah diharapkan oleh keluarganya untuk mendampingi hidupnya.

“Aku takut, Mas,” ucap Gendhis lirih.

“Aku saja yang minta, hanya beras tapi nanti saja kalau misalnya aku tidak berhasil mendapatkan uang yang cukup. Semoga saja besok Pak Kaji mau mempekerjakanku sebagai pencabut rumput di kebunnya,” ucap Ramlan.

Sepasang suami istri itu membisu, menyelami pikirannya masing-masing. Ramlan memikirkan bagaimana cara agar besok bisa mendapatkan u a ng untuk makan istri dan anaknya, apalagi besok malam sudah harus sahur di ramadhan pertama.

Sedangkan Gendhis merenungi nasibnya, bukan, bukan karena ia menyesali pernikahannya dengan Ramlan namun ia bersedih karena Ibunya tidak pernah menyetujui pernikahannya dengan Ramlan dulu.

Jika tidak karena Ayah Gendhis menyetujui hubungan mereka, Gendhis tidak mungkin bisa menikah dengan Ramlan, laki-laki yang berani memperjuangkannya sampai di pelaminan.

Gendhis bangkit dari tempat ia duduk, ia melangkah gontai menuju dapur. Langkahnya berhenti di depan daringan, seperti gentong yang berukuran kecil, tempat untuk menyimpan beras.

“Hanya cukup untuk bikin bubur buat besok,” ucapnya lirih.

Ia teringat dengan tanaman singkong yang tumbuh subur di halaman belakang rumahnya, sepertinya sudah penuh dengan umbi yang bisa ia gunakan untuk masak esok hari.

“Besok bikin singkong rebus aja sepertinya, berasnya bisa dipakai untuk sahur. Tapi lauknya pakai apa? Duh Gusti, paringi jalan keluar,” ucap Gendhis, bermonolog dengan dirinya sendiri.

***

Pagi-pagi buta, Gendhis bergegas menuju halaman belakang untuk mencabut singkong. Ia memutuskan untuk membuat sarapan singkong rebus pagi ini. Wajahnya berseri ketika ia berhasil mencabut satu pohon singkong dengan umbi yang cukup besar.

“Kamu ngapain, Dek?” tanya Ramlan.

“Aku nyabut singkong, Mas. Lihat singkongnya besar-besar, kita bisa makan singkong rebus pagi ini. Daunnya bisa aku masak tumis, kita bisa makan cukup hari ini,” seru Gendhis dengan girang.

“Alhamdulillah, sini aku bersihkan dulu singkongnya. Kamu siapkan dandang untuk masak singkongnya, semoga Faisal mau ya, Dek,” ucap Ramlan, berharap anak semata wayangnya yang berumur tujuh tahun juga mau makan singkong rebus.

“Mau kok, Mas. Faisal mau makan apapun yang aku masak,” ucap Gendhis.

Saat Gendhis menghidangkan singkong rebus di meja makan lengkap dengan tumis daun singkong, Faisal menatap makanan buatan ibunya dengan dahi mengernyit.

“Apa Ayah tidak punya u ang hari ini, Bu?” tanya Faisal dengan menatap wajah Ibunya dengan iba.

“Maaf ya, Le. Hari ini kita makan singkong rebus dulu, berasnya dimasak buat sahur besok. Hari ini Ayah akan berusaha nyari tambahan biar kita bisa beli lauk, biar kamu kuat puasanya,” jelas Gendhis berusaha tetap tersenyum.

“Hari ini Ayah mau ke Pak Kaji, mau nyari kerjaan tambahan buat nyabut rumput gajah. Siapa tahu rumput gajahnya bisa dikasihkan ke Ayah dan bisa dijual ke peternak sapi,” celetuk Ramlan sambil mengelus rambut Faisal.

“Aku boleh ikut? Mau bantu Ayah buat kerja, biar dapat uang lebih banyak,” pinta Faisal sambil menarik ujung kemeja Ayahnya.

“Kamu kan harus sekolah, ingat kamu sudah kelas satu dan harus banyak belajar,” cegah Gendhis.

“Apa aku gak usah sekolah saja ya, Bu? Biar bisa bantu Ayah nyari u a ng,” ujar Faisal dengan polosnya.

“Loh, justru kamu harus sekolah karena sekolah itu gratis, kamu harus pintar agar bisa mengangkat derajat Ibu dan Ayahmu. Tugasmu adalah belajar, kita makan seadanya dulu ya. Singkong juga termasuk karbohidrat pengganti nasi, sudah lengkap sama sayur juga. Kamu makan yang banyak biar besok bisa puasa dengan keadaan yang sehat dan kuat,” ucap Ramlan berusaha menyemangati anak semata wayangnya.

Faisal hanya mengangguk lalu duduk di kursi dan mengambil satu potong singkong rebus serta melahapnya.

“Alhamdulillah,” ucap Gendhis dalam hati, ia bersyukur memiliki anak laki-laki yang tidak banyak menuntut dalam hal makanan.

“Nanti malam aku mau ke rumah Ibu, siapa tahu Ibu mau ngasih beras meski hanya segenggam,” ucap Gendhis pada Ramlan.

“Apa kamu yakin, Dek? Aku coba cari uang dulu hari ini, kalau gak dapat baru kamu ke Ibu,” ujar Ramlan ragu.

“Tenang aja, Mas. Aku bisa nemuin Ayah, setidaknya kalau Ibu gak mau ngasih beras, Ayah pasti mau bantu kita,” jawab Gendhis.

“Kita sudah sering merepotkan Ayah, seringkali Ayah memberi kita uang tapi…” ucapan Ramlan menggantung ketika ia ingat kejadian beberapa minggu yang lalu.

Saat itu Ramlan bertemu dengan Ayah mertuanya di jalan dan ia diberi u ang seratus ri bu ru piah namun sialnya uang terjatuh saat ia mencari batu di sungai.

“Sudah, jangan dipikirkan kejadian itu. Memang belum rejeki kita, nanti pasti akan diganti dengan rejeki yang lebih baik lagi,” ujar Gendhis sambil menepuk-nepuk pundak suaminya.

“Ya sudah, gak ada gunanya meratapi nasib. Sekarang aku mau ke Pak Kaji, mau nyari u a ng. Do'akan ya, Dek!” seru Ramlan dengan segurat semangat di wajahnya.

“Pasti, Mas. Semoga dapat rejeki berlimpah hari ini,” ucap Gendhis.

Ramlan memutuskan untuk pergi ke rumah Pak Kaji, berharap ada kerjaan yang bisa ia garap pagi ini. Dengan langkah cepat dan penuh semangat, Ramlan menyusuri jalan setapak yang menghubungkan rumahnya dengan jalan utama di desa ini.

Rumah Pak Kaji tidak jauh dari rumahnya, hanya sekitar dua ratus meter ia bisa sampai di depan sebuah rumah gedhong yang cukup besar. Rumah yang beraksen kuno dengan ukiran kayu jati di bagian depan serta berbagai macam jenis pohon seperti mangga, belimbing dan kelengkeng berjajar rapi di halaman rumahnya.

Tentu saja, karena Pak Kaji terkenal dengan sebutan Tuan Tanah di desanya. Sawah yang ia miliki berhektar-hektar dan kebun durian yang sangat luas.

“Assalamu'alaikum, Pak Kaji!” seru Ramlan.

“Waalaikumsalam!” sayup-sayup terdengar sahutan dari dalam rumah yang cukup besar itu.

“Loh, ada apa kamu pagi-pagi begini ke rumah, Ram?” tanya Pak Kaji tergopoh-gopoh menghampiri Ramlan.

“Maaf Pak Kaji, saya kesini mau… anu,” jawab Ramlan dengan malu-malu.

“Ada apa, Ram?” tanya Pak Kaji penasaran.

“Apa Pak Kaji butuh orang untuk babat suket (bersih-bersih rumput) di kebun?” tanya Ramlan dengan hati-hati.

“Owalah, kamu mau ngarit di kebunku? Tapi gimana ya, barusan aku sudah nyuruh Pak Jawar buat ngarit disana, jadi maaf ya, Ram,” jawab Pak Kaji merasa tidak enak karena menolak Ramlan.

“Oh, gak apa-apa Pak Kaji. Kalau begitu saya pamit, terimakasih banyak,” ucap Ramlan undur diri.

“Siapa, Bah?” tiba-tiba Bu Kaji muncul dari balik punggung Pak Kaji.

“Ramlan gitu loh, Mi. Masak lupa sama tetangga sendiri, dia mau ngarit di kebun kita tapi aku sudah nyuruh Pak Jawar buat ngarit,” jawab Pak Kaji.

“Kasihan ya, si Ramlan itu. Hidupnya semakin susah saja semenjak menikah dengan Gendhis,” celetuk Bu Kaji.

“Apa maksudnya, Mi?” tanya Pak Kaji.

“Ya pernikahan mereka kan gak dapat restu, padahal si Ramlan itu… .” ucapan Bu Kaji menggantung.

“Ramlan kenapa memangnya, Mi?”

💕💕💕

Selengkapnya bisa dibaca di KBM app
Judul : SECENTONG NASI DARI IBUKU
Penulis : Noviyanti



Mohon dukungannya dengan rate bintang 5 ya gaes 😘

Kamu dimana, Mas? Kenapa kamu meninggalkan aku dan anak kita di gubuk kita sedangkan kamu lebih memilih… Kamu Dimana, Ma...
13/05/2025

Kamu dimana, Mas? Kenapa kamu meninggalkan aku dan anak kita di gubuk kita sedangkan kamu lebih memilih…

Kamu Dimana, Mas? (Misteri Hilangnya Suamiku)

Part 1

Tiba-tiba Pergi

Matahari mulai manampakkan sinarnya di balik perbukitan Desa Palungrejo, Kabupaten Slamar. Di sebuah rumah kecil berdinding papan, dengan atap jerami, hiduplah sepasang suami istri dengan seorang anak kecil yang berusia dua tahun. Sekar dan Aryo, itu nama mereka.

Hidup dengan segala kesederhanaan, Aryo mengais rejeki dengan menjadi buruh tani di desanya. Di sawah Pak Joyo, seorang tuan tanah yang terkenal di Desa Palungrejo. Setiap pagi, Aryo berangkat ke sawah dengan membawa cangkul dan arit sebagai peralatan wajib yang ia gunakan untuk menggarap sawah Pak Joyo. Dengan membawa bekal nasi tiwul, sambel terasi dengan teri goreng, ia sudah sangat bersyukur karena bisa makan setiap hari.

“Bekalnya sudah aku siapkan di dalam kresek, Mas.”

Sekar berjalan menghampiri suaminya yang sedang mengenakan kaos yang sudah berlubang karena gigitan Kecoak, memang banyak Kecoak dan Tikus di rumahnya. Beberapa baju dan selambu nyaris terkoyak karena ulah hewan-hewan itu, untung saja Sekar selalu menyembunyikan makanan di dalam tudung saji yang dibuat oleh Aryo dari bahan anyaman bambu. Setidaknya makanan mereka aman dan tidak terjamah oleh makhluk-makhluk tersebut.

“Terima kasih, Dek. Jadilah wanita hebat, kuat dan mandiri. Jangan pernah menjadi wanita lemah, karena kamu adalah wanita yang bisa melakukan segala sesuatunya sendiri.”

Ucapan Aryo seakan menjadi sebuah pertanda akan terjadinya sesuatu yang dapat mengubah seluruh kehidupan Sekar di masa mendatang. Selama ini, Sekar selalu bergantung pada Aryo. Menjadi istri dan ibu bagi Tirta, anak semata wayang mereka, merupakan tugas utama bagi Sekar yang selama ini ia jalani.

Untuk menghidupi kebutuhan mereka, Aryo banting tulang sendiri, menjadi buruh tani, mencari belut di malam hari, menjadi tukang ngarit di ladang orang, bahkan setiap hari Minggu, ia pergi ke pasar pagi untuk menjadi buruh panggul di sebuah warung kelontong milik Koh Atong. Saudagar keturunan Tionghoa yang memiliki lima kios di pasar Palungrejo.

“Ada yang aneh dari kalimatmu, Mas.”

Tentu saja Sekar merasa janggal dengan ucapan Sang Suami. Ia menatap wajah suaminya lekat-lekat, seakan ia akan berpisah dengan suaminya untuk waktu yang lama. Ia merasa suaminya akan meninggalkannya untuk beberapa waktu.

Rona wajah tampan nan rupawan dari seorang Aryo, membuat Sekar selalu tak bosan memandangi suaminya itu. Pun begitu dengan Sekar, wajah ayu nan jelita membuat wanita yang bergelar seorang istri baginya dan ibu dari anaknya itu masih saja menampakkan paras yang sungguh mempesona.

Kembang desa, Sekar memang dijuluki kembang desa di Desa Palungrejo sedangkan Aryo adalah pemuda tampan, anak dari pemilik lahan pohon jati terluas di desanya. Namun sayang, meski Sekar memiliki predikat kembang desa, orang tua Aryo tidak pernah setuju dengan pernikahan mereka.

Perbedaan status sosial yang membuat Bu Ngatemi, ibunda Aryo, tidak s**a dengan Sekar. Dengan perjuangan dan menentang orang tuanya, akhirnya Aryo pun berhasil menikah dengan Sekar tanpa pesta yang mewah.

Mereka memutuskan untuk hidup sendiri di pinggir hutan, membangun sebuah rumah papan sederhana dan bekerja menjadi buruh tani. Di pinggir hutan, Sekar juga dapat menemukan banyak sumber makanan yang berlimpah. Ia juga bisa menanam singkong, cabe, dan beberapa tanaman obat lainnya.

“Tidak ada, Dek. Mas hanya ingin kamu bisa lebih mandiri, kuat dan tegar dalam menghadapi kehidupan kita yang keras ini. Aku sayang kamu, Dek. Jadilah wanita yang kuat dan bisa melawan orang-orang dzalim.”

Aryo beringsut mengambil bungkusan bekal yang ada di meja papan, di ruang tamunya yang sempit. Ia juga mengambil arit dan cangkul, me nge cup lembut dahi Sekar.

“Apa Tole masih tidur?” tanya Aryo sambil mendongak ke arah pintu kamar yang sedang terbuka.

“Iya, Mas. Ndak usah pamit ke Tole.”

Tole adalah nama panggilan untuk Tirta. Seorang anak laki-laki mungil yang gembul, kini masih meringkuk di atas bayang (tempat tidur yang terbuat dari bambu) dengan berselimut jarik yang sudah pudar warnanya.

“Ya sudah, aku berangkat ya, Dek.”

Aryo mengulas senyum manis, mengelus rambut istrinya seraya men gecup pucuk kepalanya dengan lembut, lalu bergegas pergi menuju sawah dengan mengenakan sandal jepit yang sudah putus berkali-kali, ia mengakalinya dengan menyambungnya menggunakan tali rafia.

Aryo menyusuri jalan setapak menuju sawah milik Pak Joyo dengan perasaan gamang, ada rasa sesak yang menerpa sanubarinya. Sesekali langkahnya terseok-seok karena ia tidak fokus. Di pikirannya berkecamuk bimbang yang membuat dadanya ingin meledak, sudut matanya mulai basah oleh air mata yang tak sanggup ia tahan.

“Aku harus bagaimana, Gusti?” tanyanya di dalam hati.

Beberapa menit kemudian, ia sudah sampai di sebuah pematang sawah yang mulai terhampar kemuning. Desiran angin pagi membuat wajahnya diterpa dan menyejuk. Dia menggarap sawah Pak Joyo bersama dua orang temannya, beberapa hari lagi akan tiba masa panen dan ia pasti akan mendapatkan bonus. Namun hatinya masih saja gamang, bukan karena bonus itu namun karena sebuah keputusan besar yang harus ia pilih.

Sebuah tepukan tangan kencang di bahunya yang bidang, membuat ia tersentak. Seorang laki-laki setengah baya membuat ia terkejut, Parjo namanya.

“Ngelamun apa kamu, Aryo?” tanya Parjo yang usianya sekitar lima puluh tahunan.

Aryo hanya menggeleng dengan mengulas senyum tipis, bergegas turun ke sawah dan mengerjakan tugasnya untuk menggarap sawah yang siap panen itu.

***

“Krompyaaaaang.”

Bunyi piring pecah di dapur rumah Sekar membuat Tirta terjingkat. Ia menangis karena terkejut, Sekar yang tadinya berkutat di dapur kini bergegas menghampiri Tirta. Menenangkan buah hatinya yang menangis menjerit.

“Cup, Nak.”

Sekar kuwalahan menenangkan Tirta yang meraung-raung, tak biasanya anak itu menangis histeris. Ia juga tidak habis pikir kenapa piring yang ada di meja, bisa tersenggol oleh tubuhnya saat ia lewat tadi. Bahkan ia yakin jika piring tersebut berada di posisi tengah, harusnya piring itu tidak terjatuh dan pecah.

Sekar mengajak Tirta keluar, menunjukkannya dedaunan dan anak ayam yang baru saja menetas. Ia memang memelihara beberapa ayam untuk kebutuhannya sehari-hari, lumayan jika ayam-ayam itu bertelur dan bisa mereka konsumsi. Meski pekerjaan suaminya hanya buruh tani, tapi ia tetap bisa memberikan makanan anaknya dengan protein hewani. Sesekali suaminya mencari belut di sawah saat malam hari, jika hasilnya banyak, Sekar akan menjualnya sebagian ke pasar.

***

“Malam ini jangan cari belut dulu, Mas. Perasaanku tak enak.”

Berkali-kali Sekar memohon pada suaminya saat suaminya bersiap untuk mencari belut di malam hari, sebuah pekerjaan tambahan yang menurutnya cukup menguntungkan.

“Jangan berpikiran macam-macam, Dek. Serahkan sama Gusti Allah. Ya sudah, aku berangkat dulu ya,” pamit Aryo, mengecup pucuk kepala Sekar dengan penuh kasih.

Sekar melepas kepergian suaminya dengan hati gamang. Tidak biasanya, Aryo pergi menangkap belut dengan celana kain berwarna coklat yang cukup bagus dan kemeja yang disemprot minyak beraroma melati yang ia beli di pasar beberapa waktu lalu. Itu pun karena hasil tangkapan belut cukup melimpah, akhirnya hasilnya sebagian dibawa ke pasar dan uangnya digunakan untuk membeli sembako dan minyak wangi.

Malam sudah semakin larut, jam dinding tua di kamar Sekar sudah menunjukkan pukul satu dini hari. Namun, Aryo belum juga menampakkan batang hidungnya. Rasa khawatir menerpa hatinya, Sekar mondar-mandir keliling rumah. Sesekali mengintip jendela yang bertirai kelambu usang, telah pudar warnanya. Mungkin dahulu tirai itu berwarna hijau daun, kini berubah menjadi hijau keputih-putihan.

“Kamu dimana, Mas?”

Sekar bertanya pada dirinya sendiri, tak ada jawaban. Hanya hembusan angin yang menusuk tulangnya.

Hingga subuh menjelang, saat sayup-sayup terdengar suara adzan dari surau yang terletak cukup jauh dari rumahnya di pinggiran hutan, Sekar terkesiap. Ia tertidur di atas tikar bambu yang ia gelar di ruang tamu, perasaannya masih saja kacau saat ia menyadari bahwa suaminya tak pulang tadi malam.

***

Selengkapnya bisa di baca di K B M app yaa.

Judul : Kamu Dimana, Mas? (Misteri Hilangnya Suamiku)
Penulis : Noviyanti

Pulanglah, Nak jika setiap hari kamu di s*k sa oleh suamimu sendiri, hanya diberi nafkah 15 rebu sehari dan di pak sa ti...
13/05/2025

Pulanglah, Nak jika setiap hari kamu di s*k sa oleh suamimu sendiri, hanya diberi nafkah 15 rebu sehari dan di pak sa tidur di lantai yang dingin dan harus menahan lapar setiap hari hanya karena…

Ningsih (Bukan) Istri Idaman

Part 2

"Beli apa, Nduk?" tanya bulik Ratih, adik dari ibunya Ningsih. Rumahnya terletak di seberang rumah Ningsih dan membuka warung kelontong kecil-kecilan.

"Telur tiga biji Bulik dan kopi hitam dia saset, kalau ada kopi yang seribuan saja ya, bulik," jawab Ningsih dengan menggenggam ua ng sepuluh ri bu an.

"Oiya ada, Nduk, buat apa telur tiga biji?" tanya bulik Ratih pada keponakannya, merasa iba karena semenjak Ningsih menikah dengan Harun, tubuh Ningsih nampak kurus dan wajahnya muram.

"Buat masakin Mas Harun besok," jawab bulik Ratih dengan senyum tipis.

"Apa cukup cuma tiga biji? Kamu makan apa kalau telurnya dimakan suamimu, Nduk?" tanya bulik Ratih.

"Hmmm masih ada lauk lain kok, Bulik, masih ada ikan asin. Aku kan lebih s**a ikan asin, lebih gurih apalagi sama sambel," jawab Ningsih, berusaha menutupi kesedihannya.

"Owalah, ini ya," ucap Bulik Ratih dengan menyerahkan tiga butir telur dan kopi dua saset yang sudah ia masukkan ke dalam kantong kresek kecil berwarna bening.

"Berapa, Bulik?" tanya Ningsih.

"Delapan ri bu, Nduk," jawab Bulik Ratih.

Seketika Ningsih menyodorkan u ang lima ri buan dan tiga lembar u ang seribuan untuk Bulik Ratih.

"Oiya, sebentar jangan pulang dulu, Nduk. Bulik ada sesuatu buat kamu," cegah Bulik Ratih, bergegas masuk ke dalam rumah.

Tergopoh-gopoh Bulik Ratih menyerahkan bungkusan kresek tanggung berwarna hitam untuk Ningsih. Mata Ningsih terbelalak.

"Apa ini, Bulik?" tanya Ningsih sambil melongok ke dalam isi kantong kresek yang diberikan Bulik Ratih untuknya.

"Buat kamu, simpan sendiri. Jangan sampai Harun tau," pesan Bulik Ratih dengan senyum miris.

"Matur suwun, Bulik," ucap Ningsih dengan mata yang berkaca-kaca.

Bergegas Ningsih pulang ke rumahnya, takut jika suaminya sudah selesai mandi dan mengetahui dia membawa bungkusan dari buliknya.

Dengan celingak-celinguk, Ningsih masuk ke dalam rumah langsung menuju dapur dan membuka bungkusan dari buliknya itu. Di dalamnya terdapat beras satu kiloan, lima saset susu dan lima lembar ua ng se pul uh ri bu-an.

Mata Ningsih langsung mengembun, hatinya berdesir dengan perlakuan buliknya yang masih peduli dengan dirinya. Seakan Bulik Ratih tahu bahwa ia hanya mendapat jatah belanja lima belas ribu sehari. Dengan cepat ia masukkan ua ng lima puluh ri bu itu ke dalam saku dasternya dan menyembunyikan beras serta susu ke dalam panci yang ada di dalam lemari makanan.

Ia bergegas menjerang air untuk membuat kopi, jika suaminya tahu dia tak segera membuatkan kopi untuknya, suaminya pasti akan marah dan teriak-teriak dengan cacian yang tak pantas didengar.

Kopi hitam sudah tersaji di meja ruang tamu, ia melihat suaminya sedang merokok disana. Mengepulkan asap yang membumbung di langit-langit rumah.

"Haruuun…sudah pulang kamu, Le?" Seru sebuah suara yang ternyata adalah Bu Lastri, ibu Harun.

"Iya, Bu," jawab Harun sambil menoleh ke arah pintu masuk rumahnya. Terlihat Sang Ibu masuk dengan tergopoh-gopoh dan duduk di sampingnya sambil melirik ke arah Ningsih yang berdiri di samping Harun.

"Ua ng harian Ibu mana?" tanya ibunya.

"Ini, Bu," jawab Harun sambil merogoh saku kaos yang ia kenakan dan menyerahkan tiga lembar u ang sepuluh ri buan untuk ibunya.

"Iya wes, makasi ya. Mumpung Bapakmu masih di rumah Pak Kades, ada rapat warga disana," ucap ibunya dengan memasukkan ua ng pemberian anaknya ke dalam saku daster.

"Ke rumah Pak Kades, Bu??" tanya Harun dengan mata terbelalak, jika ia tahu, ia akan ikut rapat itu karena ia yakin pasti bertemu dengan Maya disana.

"Iya, ada rapat rutin warga. Kalau bapakmu tahu ibu masih minta ua ng ke kamu, Bapakmu pasti akan marah. Kan wajar ibu kamu kasih ua ng, meskipun bapakmu masih ngasih ibu ua ng bulanan se ju ta," ucap ibunya dengan wajah jengkel.

"Gak apa-apa, Bu, sudah kewajiban Harun untuk memberi ibu ua ng," ucap Harun.

"Harusnya jatah Ibu tiga puluh li ma ri bu, gara-gara kamu menikah dengan dia, ja tah ibu berkurang," ucap sang ibu sambil melirik Ningsih.

"Ya kalau aku gak ngasih dia ua ng belanja, nanti aku dikira gak tanggung jawab, Bu," tambah Harun dengan wajah kesal.

"Dan kamu Ningsih, harusnya kamu bersyukur kalau Harun ngasih kamu ua ng belanja. Jangan boros, jadi istri itu yang pintar ngatur ua ng. Jangan ngasih Harun ikan asin sama sambel terus, kasihan dia kerja banting tulang, butuh gizi," ujar sang mertua sambil menun juk-nun-juk wajah Ningsih.

"Iya, Bu," ucap Ningsih dengan menahan air mata agar tak terjatuh di p**i.

"Haduuuh, senjatanya pake nangis segala kamu, gak usah ce ngeng. Makanya kenapa ibu gak setuju bapakmu menjodohkan kamu dengan Ningsih, umurnya saja masih ba u kencur. Gak kerja dan gak be -cus me la-ya ni suami, dinasehati dikit aja udah mau nangis," cibir ibu mertuanya ketika melihat mata Ningsih sudah berembun dan memerah.

"Siapa juga yang mau nikah, Bu. Kan ibu tahu sendiri aku setuju karena aku tidak ingin dicap per-jak a tua yang tak laku. Kalau aku boleh milih, aku maunya ya sama Maya. Kembang Desa yang cantik dan Bapaknya seorang kades, pasti hidupku lebih makmur dan aku bisa dijadikan pegawai di kelurahan," ucap Harun.

"Maunya ibu sih begitu Le, tapi bapakmu itu gak mau dan sungkan kalau harus melamar Maya. Tapi memangnya Maya mau sama kamu?" tanya Sang Ibu dengan mendelik.

"Ya gak tau, Bu. Tapi aku sebenarnya juga minder sih Bu. Dia tipenya lebih tinggi dari aku, sedangkan aku hanya butuh tani. Mana mau dia sama aku, apalagi umurku sudah gak muda lagi," gerutu Harun.

"Ya wes, Ibu pulang dulu. Takut kalau bapakmu sudah datang, nanti dia tanya macam-macam," ucap sang ibu dengan melambaikan tangan kepada Harun. Melenggang keluar rumah sambil menyeringai, akhirnya dia dapat tambahan u4ng belanja lagi hari ini.

"Hei Ning, jangan cengeng kamu. Cuma dikasih tau begitu saja sama Ibuku kok malah nangis. Ibuku benar, kalau jadi istri itu yang becus. Masak bisanya bikin makanan ikan asin sama sambel, kalau gak gitu tempe. Kamu kira aku gak bosan apa," ujar Harun sambil menyeruput kopinya.

Ningsih berlalu menuju dapur, air matanya tak tertahan untuk menetes. Hanya di dapur ia bisa dengan puas menangis. Andai saja waktu bisa diputar kembali, mungkin ia akan memohon kepada kedua orang tuanya untuk tak menikah dengan Harun.

Bahkan sampai saat inipun dia masih tak terjamah oleh suaminya sendiri, tidurpun harus di lantai beralaskan tikar bambu. Sedangkan suaminya tidur di atas ra n-jang. Kadang ia mengeluh sakit punggung dan kedinginan, tapi Harun tak memperdulikannya.

"Apa salahku, Mas?" gumam Ningsih lirih, menahan rasa pedih yang hampir setiap hari ia alami.

Ia me rab a saku dasternya, masih tersimpan rapi didalamnya ua ng lima puluh ri bu pemberian Bulik Ratih. Besok ia akan pergunakan untuk belanja sayur sop dan tempe serta telur setengah kilo. Sisanya akan dia simpan di dalam panci untuk jaga-jaga bila suatu hari nanti ia kekurangan u ang untuk belanja.

***

Ikuti terus kisah Ningsih selengkapnya di KBM app

Judul : NINGSIH (BUKAN) ISTRI IDAMAN
Penulis : Noviyanti

Address

Surabaya
60228

Telephone

+628385531868

Website

Alerts

Be the first to know and let us send you an email when D'Shop posts news and promotions. Your email address will not be used for any other purpose, and you can unsubscribe at any time.

Contact The Business

Send a message to D'Shop:

Share