29/03/2022
Ransel atau carrier sebagai perlengkapan pendukung pendakian dirancang untuk memenuhi kebutuhan perjalanan, baik dari sisi tujuan, kondisi medan, ataupun durasi perjalanan. Tentunya juga dengan memperhatikan unsur kekuatan, kenyamanan dan kepraktisan.
Meskipun rancangan carrier sudah dibuat sangat detail dan memperhatikan berbagai unsur, terkadang masih ada pendaki yang belum memahami fungsi dari setiap fitur ransel/carrier dengan benar, baik fitur-fitur dasar maupun khusus yang ditambahkan pada jenis ransel tertentu. Padahal, setiap unsur dan fitur pada ransel dirancang untuk sebisa mungkin meminimalisir dampak pada tubuh.
Fitur-fitur ransel seperti stabillizer strap, shoulder harness, sternum belt, dan hip belt dirancang agar terjadi beban tidak hanya bertumpu pada bahu. Karena dalam jangka waktu panjang, hal ini tentu akan memengaruhi bentuk tubuh pendaki.
Salah satu fitur yang penting dipahami adalah hip belt. Fitur ini berfungsi untuk mentransfer beban dari bahu ke kaki, melalui pinggul. Dengan kata lain, titik utama beban ransel yang kita bawa berada di pinggul.
Sering dijumpai para pendaki tidak menggunakan hip belt ini secara benar. Entah hip belt tidak terpasang, longgar, atau terpasang terlalu ke bawah. Alhasil, tujuan utama dari fitur hip belt itu sendiri malah tidak tercapai.
Cara memakai hip belt yang benar adalah dengan memasangnya tepat berada di pinggul dan mengencangkan gesper yang sudah terpasang.
Selain memanfaatkan beragan fitur pada ransel, teknik mengemas barang di ransel (packing) juga harus berpengaruh. Karenanya keterampilan ini perlu dipahami dan terus dilatih. Jadi, yuk jaga dan sayangi punggung kita agar bisa bertualang sampai tua.😉
📝