16/03/2018
Risauku Bukan Karena Tak Punya Pacar, tapi Karena Hidup di Sistem Serba Bebas
Safitri Fathin ( Pemerhati Remaja, Anggota Klinik Remaja Islam Semarang, Anggota Revowriter )
Ahad kemarin aku mendengar cerita pilu dari seorang ibu, tentang putri sulungnya yang kini berusia remaja. Beliau mencurahkan, betapa sulitnya hidup dalam sistem yang begitu rusak. Dimana remaja, sulit untuk menjadi harapan bangsa. Kelakuannya, pergaulannya, sudah terpapar polusi sekuler-liberal. Dan ternyata putrinya, tak merasakan hal berbeda.
Putri beliau mengeluh, "Kenapa dimana-mana temen2ku pacaran? Di pondok, di sekolah, semua sama. Kenapa aku seperti orang asing karna tak mengikuti umumnya mereka? Mengapa aku dijauhi karena ingin tetap memegang teguh islam? Aku ingin pergi dari mereka."
Ya, jaman now ketika kita memperingatkan teman bahwa pacaran dilarang dalam islam, justru malah dijauhi. Kita dianggap penghalang bagi pelaku maksiat.
Suatu waktu dia pernah bertanya pada ibunya, "mah, apa mereka itu nggak pernah ngobrol sama orang tuanya ya? Jadi cari perhatian dari orang lain?" Ibunya menjawab, "bisa jadi nak."
Dan benar saja, ketika dia menanyakan hal itu pada temannya, memang temannya tak begitu dekat dengan kedua orang tuanya.
Bukan satu dua anak saja. Tapi banyak. Jika tak percaya, bisa kau tanyakan pada remaja putri disekitarmu. Karena orang tua hari ini tentu lebih sibuk mengejar materi. Ibu-ibu pun tak mau ketinggalan unjuk diri. Ya, bagaimana tidak? Biaya hidup semakin tinggi, belum lagi urusan gengsi. Maka wajar jika urusan anak menjadi terpinggir.
Berbicara wanita, perlu kita tau, bahwa wanita adalah makhluk yang butuh perhatian lebih dan tempat untuk mencurahkan isi hati. Ketika tiba usia remaja, suatu hal yang pasti, dia akan jatuh hati pada seorang lelaki. Namun sayang, ketika dia mulai merasakan hal itu, dia tak tau harus bagaimana dan harus bercerita pada siapa. Sedangkan orang tuanya tak pernah menyempatkan waktu untuk duduk mendengar cerita anak. Maka wajar jika sang anak yang belum tau apa-apa, mengikuti umumnya yang dilakukan teman-teman. Ya, apa lagi kalau bukan PACARAN?
Dengan pacaran dia dapat perhatian, pujian, kasih sayang, yang tidak dia dapat dirumah. Meskipun semuanya itu PALSU. Rayuan, sanjungan, pelukan tidaklah tulus. Kalaupun tulus itu karena dia tulus mengharap keperawananmu. Dan sayangnya yang palsu itu tetap saja laku karena dianggap butuh.
Maka ibu, pulanglah. Dekap anak gadismu, jadilah teman untuknya. Yang mau mendengar dan memberikan solusi atas masalahnya. Karena di tanganmu lah bisa didapat indahnya masa depan. Temani anak gadismu. Jangan sampe racun-racun liberal membius , sehingga dia terbawa arus.
Untukmu remaja muslimah,
Bersabarlah sholihah.. mendekati akhir zaman, memang islam ibarat bara api yang harus tetap kau genggam. Dimana kau pasti akan merasakan sakit, gerah, panas dan merasa ingin melepasnya, namun tetap menggenggamnya adalah keselamatan untukmu kelak di akhirat