23/10/2017
Sebetulnya, kita wanita menutup aurat bukan hanya untuk kita sendiri. Karena ada "tanggung renteng" atasnya. Dan berat itu.
Untuk yang belum menikah, itu tanda bakti kepada ayah, karena ayahlah yang bakal ditanya di akhirat atas pertanggungjawaban nya karena anak perempuannya membebaskan auratnya dilihat sembarang pria.
Untuk yang sudah menikah, itu tanda sayang kepada suami, karena suamilah yang bakal ditanya di akhirat, kalau istrinya terbuka di muka umum dan berdosa setiap mata pria memandang.
Untuk seorang ibu, agar anak-anak laki-lakinya kelak mendapat pendamping istri solehah, yang bakal menyelamatkan keluarga anak kita dan cucu-cucu kita.
Untuk yang seorang ibu, agar anak-anak perempuannya mencontoh melindungi aurat, supaya kita dan ayah mereka diselamatkan dari pertanggungjawaban di akhirat kelak.
Untuk kita sendiri? Setiap pasang mata memandang kita, itu tabungan dosa. Setiap saatnya. Jadi kebayang, setiap hari keluar tanpa menutup aurat, setiap hari mendulang dosa besar.
Jadi untuk yang masih belum menutup aurat, bisa jadi hal yang diatas belum pernah tersirat dalam hati.
Dan bisa jadi, hati belum terhubung dengan Allah. Belum mencintai Dia.
Mencintai Allah? Pasti nurut.
Ah, la wong menutup aurat saja kita masih berpotensi membuat dosa setiap harinya. Paling tidak, menutup satu pintu untuk menabung salah sama Allah. Ndak ada ruginya. Untungnya malah banyaaak. Itu Allah yang jamin.
Jangan setengah-setengah. "Hijabi hati dulu". Hey, amalan hanya komplit kalau hati, badan dan pikiran bergerak selaras.
Kalau hatinya doang yang ibadah, ntar shalat cuma ngawang duduk dan dalam hati saja? Ya ndak to. Shalat saja badan bergerak.
Hati cinta Allah, tapi tidak diamalkan oleh raga, berarti belum komplit cinta kita. Demikian p**a sebaliknya.
Coba deh, mulai dengan kenakan jilbab tanpa tunggu lagi, tanpa alasan lagi, nanti juga Allah tunjukkan jalan yang gampang.