06/12/2018
Rekan2, pernahkah merasakan bahwa selalu saja penghasilan yang didapat tidak cukup atau selalu saja kurang, padahal penghasilan yang diterima rasa2nya lebih banyak dari rata2 orang pada umumnya.. lalu, dalam bisnis selalu saja mentok apapun yang dilakukan dan banyak masalah yang terjadi, sering muncul masalah baru, hutang baru, bahkan berujung pada kebangkrutan, saat hutang semakin bertambah dan menumpuk hidup jadi tidak tenang karena terus dikejar2 tagihan hutang.. dalam keluarga kurang harmonis, hubungan suami istri sering cekcok dan kurang mesra, dengan anak2 terasa ada jarak dan atau anak2 jadi sulit diatur.. masalah dalam hidup tidak kunjung mendapat jalan keluar dalam jangka waktu yang cukup lama.. sakit2an, jauh jodoh, belum dikaruniai keturunan, dan lain sebagainya.. Hati2lah, mari bercermin dan introspeksi diri, *mungkinkah Riba menjadi penyebabnya??!!*..
-
Bagi Pejabat dan atau pegawai Bank (Lembaga Keuangan Ribawi) silahkan *'diperbandingkan'*..
Bagi mereka yang pernah merasakan hancur karena Riba silahkan jadikan *'Pelajaran'*..
Bagi yang merasa sukses dalam bisnisnya tapi masih berkecimpung dalam kredit dan modal Riba silahkan jadikan *'Peringatan'*..
Bagi yang tidak pernah bersentuhan sedikitpun dengan Riba silahkan jadikan *'Renungan'*..
Saat pikiran terus terbayang soal Riba ketika masih bekerja di Bank, Sebelum terlupa, maka mari sedikit bercerita!!..
---
Dahulu kala, saat Saya masih bekerja di Bank, ada beberapa kali moment2 diawal bulan dimana telah terlewati akhir bulan yang menguras tenaga, emosi dan pikiran..
Ini bukan soal target jualan yang argonya mulai dari 0 lagi pada stiap awal bulan. tapi moment penagihan diakhir bulan yang lalu, saat menghadapi banyaknya account kredit yang kesulitan melakukan pembayaran, maka selalu menjadi pembahasan yang tak kunjung berakhir dalam suatu kesimpulan..
Sebagai informasi saja, setiap Realisasi suatu pencairan kredit selalu melalui proses yang penuh analisa, sistem skoring, bahkan sekalipun harus kejar target yang dibebankan Atasan, namun Kami tau bahwa sebagai seorang pegawai Bank, pencairan kredit yang serampangan hanya akan berimbas pada kondisi sulit dikemudian hari, baik saat harus berhadapan dengan Dewan Direksi, Audit Internal dan atau kredit dari Nasabah nunggak yang akan menjadi tanggungjawab penagihan..
Bagaimana tidak jadi pikiran? secara logika banyaknya Pengusaha yang sudah berjalan usaha bertahun2, dengan usaha yang begitu bagus (secara skoring atau analisa keuangan), lalu serta merta tak mampu membayar angsuran dan menjadi jatuh usahanya bahkan bangkrut setelah diberikan kredit untuk (misal) tambahan modal kerja dan atau kredit konsumsi lainnya yang tentunya sudah melewati segala macam analisa kredit..
Saat ditanyakan alasan2 menunggak oleh Management, maka presentasi per account bisa sangat detail alasannya :
~ karena Over Finance (secara semua lembaga keuangan baik Bank ataupun BPR serta leasing saling bersaing tuk mendapatkn ttd dr calon nasabah dan nasabah maen terima aja semua penawaran)
~ miss management pengelolaan usaha dan keuangan
~ usaha tidak berkembang krn modal digunakan tuk konsumsi sehingga kewajiban utang dan bunga smakin banyak tp usaha tdk bertambah besar
~ membuka usaha baru yg belum teruji dan tidak menghasilkan sehingga membebani usaha yg sudah berjalan baik
~ tertipu rekan bisnis atau bahkan oleh karyawannya sendiri
~ pertikaian keluarga karena masalah internal sehingga bisnis dan usaha terbengkalai
~ kondisi perekonomian secara nasional yg stagnan sehingga perputaran uang sulit dan membuat stock menumpuk
~ dan bisa ratusan alasan lainnya berbanding dengan kondisi masing2 debitur yang kesulitan dalam pembayaran angsuran kreditnya..
namun Saya pribadi kadang tidak mengerti secara pasti alasan sesungguhnya kenapa banyak nasabah yang setelah dikucurkan dana kredit lalu usaha cenderung turun bahkan bangkrut. kondisi ini bisa terjadi pada usaha yang sudah berdiri lamanya belasan tahun bahkan puluhan tahun atau mereka yang baru berjalan beberapa tahun saja. bisa terjadi pada mereka dengan skala usaha yang pemberian kredit layak diberikan hingga milyaran ataupun yg hanya layak belasan juta saja besarnya..
--
Andai waktu itu Saya sudah aktif bersosial media, andai saat itu komunitas anti riba sudah merajalela, andai hati ini sudah bisa terbuka saat membaca tulisan mereka2 yang mengingatkan.
Karena apabila saat itu Saya mau sedikit saja membaca dan menerima alasan secara agama, maka mungkin saja alasannya sangat sederhana dan tanpa harus njelimet menganalisa.
tidaklah Allah melarang dari sesuatu kecuali karena adanya dampak buruk dan akibat yang tidak baik bagi pelaku. Seperti Allah melarang dari praktek Riba, karena berakibat buruk bagi pelakunya..
Sabda Rasulullah
shallallahu‘alaihi wasallam:ٍ
“Tidak ada seorang pun yang banyak melakukan praktek riba kecuali akhir dari urusannya adalah kemiskinan (hartanya menjadi sedikit).”
(HR. Ibnu Majah, dari shahabat ‘Abdullah bin Mas’ud radhiyallahu‘anhu, dishahihkan oleh Al-Imam Al-Albani rahimahullah dalam Shahih Ibnu Majah)..
Yess, As Simple As That!! Apabila Rasulullah sendiri sudah menyampaikan bahwa akhir dari riba itu adalah Kemiskinan maka apalagi yang harus dianalisa??
"ah, Pak Nopan nih mengada2, ini nyatanya saya masih lancar2 saja usaha dgn modal kredit bank, masih banyak kok teman2 saya yang juga semakin sukses bahkan bisa buka cabang dimana2" ok, ok, hati2 aja bila ternyata adalah BELUM!!..
-
kadang ada yang belum mantap kalo masih hadist,
baik kita berikan dalil Al-Qur'annya :
“Allah MEMUSNAHKAN riba dan menyuburkan sedekah. Dan Allah tidak menyukai setiap orang yang tetap dalam kekafiran, dan selalu berbuat dosa.”
(QS. Al Baqarah [2]: 276)
Ini adalah hukuman di dunia bagi pelaku riba, yaitu Allah akan memusnahkan atau menghancurkan hartanya. “Menghancurkan” ini ada dua jenis :
~ Pertama, menghancurkan yang bersifat konkret. Misalnya pelakunya ditimpa bencana atau musibah, seperti jatuh sakit dan membutuhkan pengobatan (mahal). Atau ada keluarganya yang jatuh sakit serupa dan membutuhkan biaya pengobatan yang banyak. Atau hartanya terbakar, atau dicuri orang. Akhirnya, harta yang dia dapatkan habis dengan sangat cepatnya.
~ Kedua, menghancurkan yang bersifat abstrak, yaitu menghilangkan (menghancurkan) berkahnya. Dia memiliki harta yang sangat berlimpah, akan tetapi dia seperti orang fakir miskin yang tidak bisa memanfaatkan hartanya.
(Lihat penjelasan Syaikh Ibnu ‘Utsaimin di
Syarh Riyadhus Shalihin, 1/580 dan 1/1907)..
"ah Pak Nopan ini gak pernah lihat ya? banyak kok pengusaha yang sukses punya harta milyar bahkan triliun padahal kita tau bisnisnya dibantu modal Riba atau bahkan punya usaha Riba!!"..
Baiklah2, Rekan2 pernah dengar "istidraj"?
Istidraj adalah kesenangan dan nikmat yang Allah berikan kepada orang yang jauh dari-Nya yang sebenarnya itu menjadi azab baginya apakah dia bertobat atau semakin jauh..
Sederhananya adalah, jika kita dapati seseorang yang semakin buruk kualitas ibadahnya, semakin tidak ikhlas, berkurang kuantitasnya, sementara maksiat semakin banyak, baik maksiat kepada Allah dan manusia, lalu rezki baginya Allah berikan melimpah ruah, kesenangan hidup begitu mudah didapatkan, tidak pernah sakit dan celaka, panjang umur, bahkan Allah berikan keluarbiasaan pada kekuatan tubuhnya. Maka, hati-hatilah bisa jadi ini adalah ISTIDRAJ baginya, secara beransur Allah menariknya dalam kebinasaan. Naudzubillaah..
---
Rekan2, hal diatas mungkin saja hanya mengulas lebih banyak tentang Pemberi Riba, sedangkan Rasul melaknat bukan hanya pemberi Riba..
“Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam melaknat orang yang memakan riba, memberi makan riba (orang yang memberi riba kepada pihak yang mengambil riba), juru tulisnya, dan dua saksinya. Beliau mengatakan: *‘Mereka itu sama’*.” [HR. Muslim]
Rekan2 coba tanyakan pada diri Kita masing2 dan lihat sekitar kita, apakah akibatnya juga sampai pada mereka yg termasuk dalam Pelaku Riba??..
Mari bersama2 saling mengingatkan, bila masih sebagai Pemberi Riba, *Lunasi!!* bila sebagai Pemakan Riba, *Tinggalkan!!* Sebagai Pencatat ataupun Saksi, maka *Hindari!!*.. tidak mudah memang, terlebih diusia dunia yang semakin menua ini, namun Mumpung tanah masih dibawah kaki kita Rekan2, karena bagaimanapun, Esok Lusa maka tanah pasti akan berada diatas seluruh tubuh Kita!!..
---
Rekan2, saat Kita membaca Al-Qur'an dan Hadist, maka itu berada dalam lingkup semua makhluk, baik itu Muslim ataupun Non Muslim, baik itu lingkup Pribadi ataupun bahkan Negara.
Bila hasil akhir dari Riba adalah Kemiskinan (atau kesusahan), maka ini bisa terjadi kepada semua individu baik itu muslim atau non muslim. dan begitupula dalam konteks yang lebih luas, maka kemiskinan (atau kesusahan) ini bisa dalam lingkup keluarga ataupun Negara..
Di jaman Informasi sosial media seperti saat ini, silahkan cari informasi mengenai jutaan orang yang mereka hancur karena hutang berbunga, silahkan juga gali soal negara2 yang bangkrut karena hutang, dan Negara2 yang juga sedang oleng karena Hutang yang juga jelas Berbunga..
Wallahu A'lam..
Wassalamu'alaikum..
-----
Sumber dari tulisan group wa :
*(Saya) Nopan - (Humas) XBank..