Plus Batik

Plus Batik Itu karena kami percaya 'Batik untuk Kehidupan Lebih Baik'

Plus Batik adalah brand batik dari Jogja yang didirikan dengan semangat perbaikan-perbaikan pada industri batik di Indonesia sesuai dengan Tujuan Pembangunan Berkelanjutan.

05/04/2026

teamLab Borderless di Tokyo udah lama jadi wish list museum Jepang yang ingin kudatangi, sampai akhirnya beberapa waktu lalu bisa kejadian!

Ini berangkat dari rasa penasaranku sebetulnya secanggih apa itu imersif, atau bagaimana sih pengalaman extended reality itu?

Bener aja, di sini aku merasakan multi-sensory, bahkan tidak sekadar melihat karya, tapi ada di dalamnya.

Ruang digital di sini hidup, bergerak, dan merespon kehadiran kita melalui sensor dan komputasi real-time.

Dunia fisik dan digital menyatu dalam satu ruang.

Saking ‘real’-nya dunia metaverse yang dihadirkan, selepas mengunjungi aku bertanya-tanya: Mungkin ini bukan lagi teknologi masa depan, tapi saat ini, at this very moment, kita sudah mulai hidup di dalamnya.

Kalau kalian mau nggak experience imersif ini? Would you visit this place?

ありがとう日本Arigatou Japan!The trip may ended but the stories last forever. I will continue to remember and tell the memoir w...
29/03/2026

ありがとう日本
Arigatou Japan!

The trip may ended but the stories last forever. I will continue to remember and tell the memoir with every corner of my heart.

Seperti biasa, sore sering kami habiskan dengan JJS alias jalan-jalan sore ke koen atau taman yang walking distance alia...
15/03/2026

Seperti biasa, sore sering kami habiskan dengan JJS alias jalan-jalan sore ke koen atau taman yang walking distance alias dekat dari rumah. Kemarin ke taman Rokakoshunen berharap nemu sakura blooming lagi.

Awal masuk taman ini sepi. Tapi ternyata di bagian tengah taman ini ada sejarah berharga; rumah tua yang masih terpelihara yang dulunya milik penulis dan novelis terkenal Roka Tokutomi.

Rumah berusia hampir 120 tahun ini bersejarah karena menjadi tempat bapak Roka menghabiskan waktu menuliskan karya2 besar kebanggaan Jepang. Luasan kompleksnya sekitar 12.000 m2 dengan berbagai bangunan rumah, perpustakaan, tempat belajar yang saling terkoneksi.

Yang buat kami kagum adalah kondisinya masih terjaga seperti seperti aslinya, termasuk pohon-pohon dan halaman berkebun (Pak Roka juga bertani) karena tahun 1937 atau 10 tahun setelah pak Roka meninggal ibu Aiko, istrinya menghibahkan ke pemerintah Tokyo metropolitan agar dapat menjadi tempat belajar dan kegiatan untuk masyarakat. Gayung bersambut, pemerintah Tokyo take it seriously pelestariannya dan menjadikannya aset negara.

Di bagian samping barat rumah bahkan dibangun museum untuk mengenang karya-karya dan hidup pak Roka. Bahkan nisan pasangan Tokutomi yang berada di sisi timur rumah juga terpelihara dengan baik.

Masih di kompleks taman terdapat taman bunga yang hampir semuanya mekar. Hawa memang mulai memanas dan bunga2 mulai bermunculan. Gemuruh tawa terdengar dari anak2, orang tua, dan para lansia sembari mereka bermain, duduk aja atau olah raga kecil. Hati ini rasa nyaman banget!

Jepang, aku belajar banyak deh dari kamu. Tentang orang2 yang berkarya dan berkontribusi untuk bangsa, dan pemerintahnya yang serius bangun negara baju tanpa melupakan sejarahnya.


Waktu zaman SMA, kami dimarahi guru wali karena mencoreti meja-meja kelas dengan tulisan “CK’s World”. Ini adalah inisia...
01/03/2026

Waktu zaman SMA, kami dimarahi guru wali karena mencoreti meja-meja kelas dengan tulisan “CK’s World”. Ini adalah inisial nama kami; Cannia dan Karina. Memang kebangetan sih kami, karena bahkan aku ingat ada 1 meja yang ditulis besar sekali. Hahaha. Waktu itu kami kena hukuman untuk menghapus tulisan2 yang ditulis dengan tipe-x itu dan tidak lagi mengulangi praktik vandalisme. Sampai sekarang masih ngakak kalau ingat cerita itu! 🤣🤣

Dan setelah 20 tahunan berlalu (buseeet!!!), dengan berbagai pasang surut di kehidupan masing-masing kami masih menjaga “CK’s World”.

Ternyata benar apa kata orang bijak “Kita akan terus berteman dan berhubungan dengan orang-orang yang sejalan pola pikirnya dengan kita sendiri”. Yeah, begitulah aku dan Cacan, kita sehati dan sepemikiran.

Mungkin dengan pekerjaan dan kesibukan masing2, kita semakin jarang ketemuan. Tapi kita selalu usahakan, apalagi di momen seperti ini, bersyukur masih bisa melanjutkan kebiasaan lama untuk bukberan bersama. Meski nggak seperti sebelumnya yang banyak orangnya, ( we miss you dearly) tapi tetap seru aja.

Love you . Mari kita teruskan mengukir “CK’s World” di berbagai tempat.

25/01/2026

kali ini aku membagi pengalamanku mendapatkan berkah di kuil jinja Asakusa musim panas lalu di Tokyo. Aku membeli omikuji atau kertas ramalan seharga 100 yen. Setelah kita memasukkan koin dalam kotak donasi kita harus mengeluarkan stick dari balok berlubang kecil untuk mendapatkan nomor kertas. Tapi initu acak dan random banget. Kadang dapat ramalan akan bernasib baik tapi tak jarang kurang baik juga.

Jika kita dapat ramalan yang bagus, kertas biasanya dimasukkan dibawa pulang, dan in my case aku simpan di dompet sampai saat ini! Sebaliknya kalau dapat ramalan buruk, kertas diikatkan di tempat khusus di kuil supaya sialnya nggak sampai terjadi. Kata orang2 di sini para Dewa juga akan membantu membuat nasib buruk tersebut menjadi baik.

Well, semua kembali ke masing-masing, mau percaya atau nggak, tapi omikuji itu alat refleksi, bukan vonis hidup. Pun banyak orang Jepang nggak menganggap omikuji sebagai ramalan mutlak, tapi lebih ke nasihat hidup dan ajakan supaya lebih hati-hati dan bersyukur.

Pada akhirnya omikuji adalah tentang bagaimana kita membaca hidup, merespon ketidakpastian, dan memilih apa yang mau kita simpan di hati. Akupun demikian, ada hal yang aku simpan, ada yang aku ikat, dan aku lepaskan. Sisanya? Aku jalan lagi.

10/01/2026

Untuk kalian yang sedang bertahan,

Aku tahu surat ini terasa terlalu sederhana,
saat kehilangan masih berdiri di depan mata.

Aku pernah berada di sana.
Bukan banjir, tapi runtuhan gempa
yang membuat rumah, tetangga,
dan hari-hari berubah dalam satu waktu.

Yang paling pedih bukan hanya harta yang menghilang,
tapi nama-nama yang tak lagi pulang.

Maka jika hari ini kalian masih saling menanyakan kabar, masih memasak dengan alat seadanya,
masih berbagi apa pun yang tersisa,
itu bukan hal kecil. Itu cara kalian bertahan.

Bertahan juga adalah keberanian.
Tapi bukan berarti harus selalu tabah.
Bertahan kadang hanya berarti tidak menyerah pada hari ini.

Luka tidak selalu terlihat,�dan pemulihan tidak pernah instan. �
Untuk itu aku ingin bilang:�kalian tidak sendiri, meski rasa sepi itu nyata.
Satu napas hari ini, itu saja.

Suratku untuk Sumatra.

08/01/2026

Merindu desa.
Aku lahir dari riuhnya kota. Sedari kecil tumbuh bersama klakson dan belantara asap kendaraan. Sampai pada masa ketika terlalu banyak kehilangan dan dunia terlalu beriak bising, aku meminta jeda untuk minggir ke tepian.

Semesta bekerja sebagaimana mestinya. Aku tinggal di desa persis seperti yang kuminta. Di pinggiran selatan kota Jogja aku tinggal di desa Bangunjiwo. Seperti halnya nama yang tersemat; ‘bangun’ artinya membangun dan ‘jiwo’ adalah jiwa; inti dari raga manusia. Bangunjiwo mengajarkanku bahwa membangun diri tidak selalu berarti berlari.
Kadang cukup berhenti, mendengar angin,
dan membiarkan jiwa pulih perlahan.

Tiga tahun ku habiskan waktu di sana. Di tempat pagi yang datang tanpa tergesa dan udara tak perlu diminta untuk segar.

Di Bangunjiwo, waktu berjalan lebih manusiawi.
Langit lebih sering menyapa dan sunyi bukan berarti kesepian. Ia adalah ketenangan yang menjanjikan kebahagiaan.

Kini aku kembali ke kota, mengejar kerja, mengejar cukup. Tapi rinduku tertinggal di desa, menetap di antara sawah, angin, dan langkah pulang yang belum bisa kutempuh.

Suatu hari, ketika sudah diberi kecukupan hidup, aku ingin kembali. Bukan untuk pergi dari dunia, tapi untuk hidup lebih utuh di dalamnya.


  Di awal tahun 2025 ini Aku biarkan tanpa resolusi, tanpa ekspektasi bahkan tanpa harapan apapun. Belajar dari rangkaia...
26/01/2025


Di awal tahun 2025 ini Aku biarkan tanpa resolusi, tanpa ekspektasi bahkan tanpa harapan apapun. Belajar dari rangkaian peristiwa di tahun 2024 hingga sekarang menulis ini pun, Aku tidak mau hanya membuat asa-angan-cita.
Rencana tinggal rencana.
Kekhawatiran silih berganti.
Harapan timbul dan tenggelam.
Berkah merekah di saat yang tepat.
Mungkin semua itu seninya hidup.
Dan Aku akan biarkan semesta mengarahkan.
Aku tinggal harus peka dan cerdas melihat kesempatan. Memilih dan berbuat apa yang dirasa membahagiakan. Itu saja.

4 Desember lalu, UNESCO akhirnya memutuskan   sebagai warisan budaya tak benda! Kebaya memang sudah menjadi bagian dalam...
06/12/2024

4 Desember lalu, UNESCO akhirnya memutuskan sebagai warisan budaya tak benda!
Kebaya memang sudah menjadi bagian dalam keseharian perempuan Indonesia. Aku sendiri misalnya, diperkenalkan kebaya dari simbah buyut (neneknya papa) yang sepanjang hidupnya mengenakan kebaya dan jarik untuk keseharian (slide 2).

Begitu juga ketika pentas seni di sekolah dasar, meskipun ribet dan ujung2nya mlotrok, kebaya tetap menjadi pilihan utama untuk memperkenalkan pakaian daerah (slide 3).

Tapi the highest part adalah betapa beruntungnya aku memiliki mama yang berkecimpung di dunia batik. (slide 4) Karena ibarat jodoh, kebaya itu jodohnya ya batik. Akupun mulai berburu kebaya untuk memadamkannya dengan batik koleksi kami.

Model kebaya pun dikreasikan dengan gaya kekinian dan menjadi salah satu opsi fashionista untuk dipadupadankan dengan pakaian mengikuti tren. Termasuk ketika aku mendesain model pakaian untuk .id, kebaya tak mungkin terlewatkan!

Pengakuan kebaya sebagai warisan budaya dunia memang bukan cuma milik Indonesia, tapi berbagi dengan Malaysia, Brunei Darussalam, Thailand, dan Singapura. Tapi memang demikianlah adanya kebaya, yang sejak abad 15/16 digunakan oleh para perempuan di kepulauan Nusantara. Bahkan sejumlah ahli menjelaskan kebaya dipengaruhi oleh berbagai pertemuan dengan kebudayaan; seperti Arab, Portugis dan Cina namun dalam kurun waktu cukup lama menjadi pilihan utama pakaian perempuan Indonesia. Di beberapa museum peradaban di Singapura dan Malaysia, kebaya memiliki sejarah yang panjang bagi masyarakatnya. Bahkan di Thailand selatan, Phuket misalnya, aku melihat sendiri beberapa perempuan lokal masih mengenakan kebaya encim.

Jadi memang begitulah kebaya; diakui dan dicintai para perempuan. Berkebaya dengan teman-sahabat akan semakin mendekatkan. Bahkan dengan perempuan yang belum kita kenal memakai kebaya, ada rasa terepresentasikan.

Akhirnya untuk kami para perempuan, kebaya dikenakan sebagai simbol kebanggaan akan identitas kaum yang berdaya dan tentu saja, anggun-menawan.

13/06/2023
みなさんこんにちは😃Plus Batikのオンラインストアがオープンしました!https://plusbatik.base.shop↑↑是非チェックしてみて下さいね!7月下旬を目指していましたが、気づいたら8月になってました…🫢商品は予約制...
01/08/2022

みなさんこんにちは😃
Plus Batikのオンラインストアがオープンしました!

https://plusbatik.base.shop

↑↑是非チェックしてみて下さいね!7月下旬を目指していましたが、気づいたら8月になってました…🫢

商品は予約制になっていますので、来週以降の配送になります。よろしくお願いします。

新しく始めたので、間違っていたり、わかりづらい箇所がたくさんあると思いますので、是非ご指摘ください!

これから定期的に商品をアップしていきますので、皆様のサポートよろしくお願いします!少しでも多くの方にインドネシアのバティックの魅力が伝えられるようなモノを作れるよう頑張っていきます。

Konnichiwa PlusPeople,
Akhirnya Plus Batik buka online store di Jepang! Kami melakukan yang terbaik untuk membuka pasar batik di Jepang. Terima kasih untuk support teman-teman ya🙏😊



Address

Jl. Sukarno Hatta No. 32, Kota Mungkid, Magelang
Yogyakarta City
56511

Opening Hours

Monday 09:00 - 16:00
Tuesday 09:00 - 16:00
Wednesday 09:00 - 16:00
Thursday 09:00 - 16:00
Friday 09:00 - 16:00

Alerts

Be the first to know and let us send you an email when Plus Batik posts news and promotions. Your email address will not be used for any other purpose, and you can unsubscribe at any time.

Contact The Business

Send a message to Plus Batik:

Share

Category