06/12/2024
4 Desember lalu, UNESCO akhirnya memutuskan sebagai warisan budaya tak benda!
Kebaya memang sudah menjadi bagian dalam keseharian perempuan Indonesia. Aku sendiri misalnya, diperkenalkan kebaya dari simbah buyut (neneknya papa) yang sepanjang hidupnya mengenakan kebaya dan jarik untuk keseharian (slide 2).
Begitu juga ketika pentas seni di sekolah dasar, meskipun ribet dan ujung2nya mlotrok, kebaya tetap menjadi pilihan utama untuk memperkenalkan pakaian daerah (slide 3).
Tapi the highest part adalah betapa beruntungnya aku memiliki mama yang berkecimpung di dunia batik. (slide 4) Karena ibarat jodoh, kebaya itu jodohnya ya batik. Akupun mulai berburu kebaya untuk memadamkannya dengan batik koleksi kami.
Model kebaya pun dikreasikan dengan gaya kekinian dan menjadi salah satu opsi fashionista untuk dipadupadankan dengan pakaian mengikuti tren. Termasuk ketika aku mendesain model pakaian untuk .id, kebaya tak mungkin terlewatkan!
Pengakuan kebaya sebagai warisan budaya dunia memang bukan cuma milik Indonesia, tapi berbagi dengan Malaysia, Brunei Darussalam, Thailand, dan Singapura. Tapi memang demikianlah adanya kebaya, yang sejak abad 15/16 digunakan oleh para perempuan di kepulauan Nusantara. Bahkan sejumlah ahli menjelaskan kebaya dipengaruhi oleh berbagai pertemuan dengan kebudayaan; seperti Arab, Portugis dan Cina namun dalam kurun waktu cukup lama menjadi pilihan utama pakaian perempuan Indonesia. Di beberapa museum peradaban di Singapura dan Malaysia, kebaya memiliki sejarah yang panjang bagi masyarakatnya. Bahkan di Thailand selatan, Phuket misalnya, aku melihat sendiri beberapa perempuan lokal masih mengenakan kebaya encim.
Jadi memang begitulah kebaya; diakui dan dicintai para perempuan. Berkebaya dengan teman-sahabat akan semakin mendekatkan. Bahkan dengan perempuan yang belum kita kenal memakai kebaya, ada rasa terepresentasikan.
Akhirnya untuk kami para perempuan, kebaya dikenakan sebagai simbol kebanggaan akan identitas kaum yang berdaya dan tentu saja, anggun-menawan.