Movins Movins adalah everyday muslim apparel MOVINS - Kaos Kamu Banget

Istiqâmah mempermudah rizki dan melapangkan kehidupan di dunia. Allah Azza wa Jalla berfirman,وَأَنْ لَوِ اسْتَقَامُوا ع...
20/03/2018

Istiqâmah mempermudah rizki dan melapangkan kehidupan di dunia.

Allah Azza wa Jalla berfirman,

وَأَنْ لَوِ اسْتَقَامُوا عَلَى الطَّرِيقَةِ لَأَسْقَيْنَاهُمْ مَاءً غَدَقًا

“Dan sekiranya mereka tetap berjalan lurus di atas jalan itu (agama Islam), niscaya Kami akan mencurahkan kepada mereka air yang cukup.” [al-Jinn/72:16]

11/08/2017

KETIKA

Ketika kamu merasa kamu tak bahagia dengan hidupmu, ingatlah, bahwa ada seseorang yang bahagia hanya karena kamu ada.

Ketika kamu merasa kesepian, sadarilah bahwa ada seseorang yang berharap bangun setiap hari hanya untuk punya kesempatan melihatmu

Ketika kamu merasa sendiri dan tak ada yg peduli, ingatlah bahwa ada seseorang di luar sana yang begitu ingin memiliki hidup yang kamu jalani.

Ketika kamu merasa tak ada yang peduli denganmu. Bercerminlah, orang yang kamu lihat di sana, membutuhkanmu lebih dari siapapun.

07/09/2016

Life is like riding a bicycle. To keep your balance you must keep Movins.

18/06/2016

Selamat berbuka puasa ...

20/01/2015

BRAND YOURSELF ( Oleh Hasanudin Abdurakhman )

Branding is learning. Banyak orang yang gagal memahami itu. Orang mengira branding atau pencitraan itu cukup dilakukan dengan memoles CV dan berakting saat wawancara. Itu salah besar!

Adapun marketing, sesekali adalah ndingkluk banting harga, yang penting bisa masuk dulu ke pasar. Setelah mendapat kepercayaan pasar, barulah kita bisa pasang harga layak. Bagaimana mendapat kepercayaan pasar? Lagi-lagi belajar, belajar, dan belajar.

Ada seorang teman, sekarang bekerja sebagai wartawan di media ternama. Ia ingin pindah kerja. Saya katakan, pindah saja. Tapi saya bisa kerja apa selain jadi wartawan? Ooo, banyak. Wartawan itu kerja di media. Maka, ia bisa bekerja sebagai media analyst, media strategist, public relation officer, bahkan marketing. Kedengaran keren, kan? Ya, keren itu karena diberi label keren, sehingga "harga"nya mahal. Tapi sekali lagi, kalau cuma keren di atas CV, itu namanya keren bodong.

Saya mengenal seseorang yang tadinya wartawan, sekarang jadi pengamat media sosial yang sudah jadi seleb, karena sering tampil di berbagai seminar dan TV. Kok bisa begitu? Sekali lagi, kuncinya belajar, belajar, belajar.

Ketika saya p**ang dari Jepang tahun 2007, saya terancam jadi pengangguran. Saya kirim CV ke berbagai perusahaan, tidak ada yang mau menerima saya. Bahkan dipanggil wawancara pun tidak. Kenapa? Karena keahlian saya tidak relevan. Waktu itu mungkin tidak ada perusahaan yang membutuhkan doktor fisika dengan pengalaman riset sekian tahun. Untuk apa? Yang laku adalah sarjana teknik.

Maka masa itu adalah masa ndingkluk, alias banting harga. Kerja apa aja, yang penting dibayar. Berapa aja, yang penting ada pemas**an. Maka saya lihat pasar, dan menyesuaikan diri dengan pasar. Apa yang laku? Bukan keahlian sebagai doktor fisika, namun kemampuan bahasa Jepang. Bahasa Jepang saya tingkat mahir, Level 1. Maka akhirnya dengan kemampuan ini saya diterima kerja sebagai manager di sebuah perusahaan kecil dan baru.

Beberapa hari menjalani karir baru saya diajak makan siang oleh orang Jepang, presdir perusahaan group tempat saya bekerja. "Otakmu itu seperti jaringan elektronik. Kamu sudah punya rangkaian elektronik di situ, kalau kamu ingin fungsi baru, kamu tinggal menggantinya dengan komponen lain, maka ia akan bekerja dengan fungsi yang berbeda. Artinya, kamu sudah terbiasa belajar, dan kamu akan bisa belajar tentang apa saja."

Saya anggap kalimat-kalimat itu nasihat, bukan pujian. Maka saya belajar-belajar-belajar. Hari-hari pertama di kantor saya bengong, tidak tahu harus berbuat apa. Saya lihat ada buku UU Ketenagakerjaan. Saya baca sampai tuntas. Itu pengetahuan pertama tentang dunia industri yang saya dapat. Berikutnya saya belajar tentang berbagai proses perizinan. Lalu dasar-dasar akuntansi, pajak, bea-cukai, ekspor-impor. Semua itu saya pahami dalam multi lingual, Indonesia-Inggris-Jepang, sehingga saya bisa menjelaskan semuanya ke pihak pimpinan di Jepang.

Setahun bekerja saya bukan lagi pendatang baru. Seluruh urusan di perusahaan manufaktur skala kecil-menengah bisa saya tangani. Maka saya pun diangkat jadi direktur. Selanjutnya saya bisa melabeli diri dengan berbagai label, sesuai kebutuhan pasar saja. Saya juga pasang label, bahwa saya siap mengembangkan perusahaan, membuka bisnis baru, karena saya punya latar belakang riset. Di sini barulah keahlian saya sebagai doktor bisa dijual. Namanya bisa dibikin keren: business development.

Jadi kuncinya cuma 2: yaitu, 1. Siap banting harga untuk bisa masuk ke pasar, dan 2. Belajar, belajar, belajar.

Then, you can brand yourself into whatever brand you like.

02/12/2014

Membina Buruh

Suatu hari saat memerika ruang kendali listrik di pabrik saya kaget menemukan 3 bangku plastik dipasang berjajar di belakang kabinet pengendali listrik. Di atasnya terbentang potongan besar kardus. Sepertinya tempat ini dijadikan tempat untuk "melarikan diri" dari pekerjaan. Bangku dan kardus tadi adalah tempat tidur darurat.

Segera saya kumpulkan karyawan yang bekerja di pabrik. Saya sampaikan temuan saya. Saya sangat marah ketika itu. Marah saya bukan sekedar karena ada karyawan yang tidak jujur, mengindari kerja kemudian tidur. Marah saya lebih karena ia telah membahayakan dirinya sendiri. Ruang kendali listrik itu termasuk restricted area, tempat berbahaya, tidak semua orang boleh masuk ke situ, karena ada banyak bahaya dari kabel listrik bertegangan tinggi. Dia malah menjadikannya tempat tidur. Pelakunya saya temukan dan saya beri sanksi.

Di lain waktu saya pernah menemukan bungkus coklat yang diselipkan di sela-sela mesin produksi. Sepertinya ada operator yang makan selagi bekerja, dan membuang sampah dengan cara seperti itu.

Pernah p**a ada buruh yang tidak masuk kerja lembur (katanya berhalangan), ia meminta temannya menggantikan, tapi dalam laporan lembur dicatat bahwa ia sendiri melakukan kerja itu. Kenapa begitu? Ia memiliki gaji pokok yang lebih tinggi, otomatis nilai lemburnya juga tinggi. Dengan cara itu ia masih mendapat uang ekstra meski bukan dia sendiri yang lembur.

Begitulah. Banyak masalah ketertiban, kejujuran, dan etos kerja yang saya temui selama hampir 7 tahun berinteraksi dan membina buruh-buruh bawahan saya. Untuk sekedar menjamin para buruh itu datang bekerja tepat waktu, bekerja sesuai jadwal, mengikuti ketentuan saja sangat sulit. Di assembly line kami harus merekrut buruh dalam jumlah 10-15 % lebih banyak dari kebutuhan, karena setiap hari sekitar sejumlah itu tidak hadir bekerja dengan berbagai alasan.

Bila kita berharap agak lebih tinggi kepada para buruh itu, kesulitannya akan lebih banyak. Untuk sekedar menuliskan data produksi pada lembar laporan dengan angka yang benar saja sulitnya bukan main. Selalu saja ada salah angka, salah kolom, dan seterusnya. Kalau dalam pengisian ada bagian yang mesti dihitung dengan penjumlahan atau pengalian, tingkat kesalahan akan meningkat drastis.

Bila harapan kita adalah agar mereka belajar selama bekerja, menyerap ilmu dari engineer asing yang bekerja bersama mereka, dari 100-an butuh paling-paling hanya 3-4 orang yang mau dan mampu. Kalau sudah bertambah sedikit saja kemampuan, mereka segera menuntut ini dan itu. Kalau tidak terpenuhi, mereka akan segera kabur mencari pekerjaan lain, meninggalkan kesempatan belajar menjadi orang yang lebih ahli.

Kalau diminta mengelola, memimpin, mengendalikan data produksi dan seterusnya itu, boleh dikatakan hampir mustahil. Saya berinteraksi dengan sejumlah orang di level supervisor, sangat jarang saya temui orang yang mampu mengelola.

Saya selalu mendorong para buruh untuk belajar, mengasah keterampilan, meningkatkan skill. Saya selalu ingatkan bahwa kenaikan gaji rutin jangan diharapkan, karena jumlahnya tak seberapa. Kenaikan baru terasa kalau ada kenaikan jabatan. Yang terakhir ini bisa dicapai kalau ada peningkatan skill.

Ada beberapa yang berhasil. Mereka berhasil meningkatkan gajinya sampai 3-4 kali lipat dibanding saat pertama masuk kerja dulu. Tapi sekali lagi, sangat sedikit.

Dari berbagai pembicaraan dengan rekan dari perusahaan lain, juga dengan orang-orang Jepang yang bekerja di sini saya menemukan hal yang hampir sama. Di sebuah perusahaan kosmetik, misalnya, selalu saja ditemukan kasus pencurian produk oleh buruh saat mereka bekerja. Ada kenalan saya orang Jepang yang sudah 20 tahun bekerja di sini, mencoba membina orang untuk menjadi ahli dalam pembuatan mold (cetak), tak satupun berhasil.

Buruh kita masih dililit oleh masalah-masalah yang sangat mendasar, yaitu soal kejujuran, keuletan, kemauan untuk belajar, sertia etika dalam bekerja. Bila masalah-masalah itu mereka selesaikan, mereka akan segera melompat menjadi orang-orang produktif, yang tidak akan perlu lagi berteriak-teriak minta naik gaji. Tapi sepertinya jarang yang mau memilih jalan itu. Kebanyakan lebih s**a berteriak setahun sekali, kemudian menikmati hasil pemaksaan itu. - Kang Hasan

09/10/2014

PENGHASILAN BUBUR NORMAN KAMARU LUAR BIASA.

Empat bulan terakhir, Norman Kamaru menjalani pekerjaan barunya. Bukan sebagai artis, melainkan jualan bubur dan makanan khas Manado. Meski terbilang sederhana, namun siapa sangka jika omzet yang didapat mantan polisi Gorontalo itu cukup menggiurkan.

Sebut saja modal awal yang dirogohnya sebesar Rp 50 juta, telah kembali hanya dalam kurun waktu dua bulan Norman berjualan. Tak hanya itu, bahkan Norman kini sudah bisa menabung dan memberikan uang kepada orangtua dari hasil jualan buburnya.

"Modal awal di atas Rp 50 juta, itu gabungan uang yang di butik juga. Sekarang alhamdulillah sudah balik modal. Dua bulan sudah balik modal," kata Norman Kamaru di Kalibata, Jakarta Selatan, Rabu (8/10/2014).

"Duh, saya takut dibilang sombong, yang jelas sih cukup untuk kami menabung, modal dan kasih orangtua kami," sambungnya sambil merahasiakan penghasilannya.

Ketika didesak, akhirnya pria yang terkenal berkat goyang Caiya Caiya itu menyebutkan nominal kasar yang diperolehnya dari berjualan bubur. Dalam kurun waktu empat hari, Norman bisa meraup omzet sekitar puluhan juta rupiah. Dalam artian, jika dalam waktu empat hari ia mendapatkan Rp 10 juta, maka dalam sebulan Norman bisa menjaring hampir Rp 75 juta.

"Kami sih nggak masalah orang mau bilang apa, yang penting ini buat kemajuan saya dan istri. Kalau ditanya nominalnya sekitar empat hari sampai lah puluhan juta," paparnya.

Dengan kesuksesan yang ada di depan mata, Norman Kamaru pun membeberkan kunci suksesnya. "Semua rahasianya ada di sini (tunjuk istri), dia yang buat saya semangat," terang Norman Kamaru.(Ras/Mer/yahoo)

Kehidupan dunia, senda gurau dan main-main.
24/09/2014

Kehidupan dunia, senda gurau dan main-main.

Perbuatan baik menghapus dosa perbuatan buruk.
23/09/2014

Perbuatan baik menghapus dosa perbuatan buruk.

Bahan bakar neraka.
23/09/2014

Bahan bakar neraka.

Address

Jalan Pandega Padma B1 No. 13
Yogyakarta City

Alerts

Be the first to know and let us send you an email when Movins posts news and promotions. Your email address will not be used for any other purpose, and you can unsubscribe at any time.

Share