08/08/2018
JPNN SEBAR BERITA BOHONG TENTANG MBAH KIAI NAJIB
Oleh:
Tempo hari santri Krapyak diramaikan berita BOHONG yang dimuat bahwa mewakili PBNU mengultimatum Presiden apabila dalam 2 hari tidak memilih sebagai cawapres, maka para ulama akan bikin poros baru. HOAX!
Maka dari pihak alumni pesantren pun melakukan klarifikasi langsung kepada dan beliau membantah kabar bohong itu. Kemudian diterbitkan dan dikirimkanlah nota kekecewaan dan tuntutan ralat berita atas nama beliau.
Dari pihak kemudian membuat rilis berita baru bahwa pihak pesantren membantah adanya pernyataan bahwa mendesak agar memilih jadi cawapres. Tapi sayangnya berita lama TIDAK DIHAPUS, sehingga dikopas media2 online lain.
Sebab itulah santri sangat kecewa terhadap etika jurnalistik - tak ada permohonan maaf atau penarikan berita lama. Kami juga penasaran, darimana wartawan berinisal 'boy' itu mengarang berita ultimatum untuk memilih ?
Struktur berita yang dimuat pun tidak jelas dimana dan dalam acara apa menyatakan ultimatum 2 hari agar presiden pilih jadi cawapres? Tidak jelas dan jelas bohong. Beliau bukan tipe kiai yang berpolitik, apalagi sampai berultimatum!
Parahnya, berita bohong tentang yang dimuat dan sudah mendapat klarifikasi dari pesantren TIDAK DITARIK, sehingga dikopas oleh media lain seperti - - -
Para santri tidak rela dijadikan komoditas politik dan salah paham khalayak sebab berita bohong - maka para santri sepakat ramaikan jagad medsos agar media-media yg telah sebarkan kebohongan itu MERALATNYA dan MENGHAPUS berita lama.
Perlu diketahui bahwa adalah pengasuh utama Pondok Pesantren Yogyakarta, salah satu rois syuriyah PBNU bukan mustasyar seperti pemberitaan dan salah satu kiai yang disepuhkan di Jogja. Catat bahwa beliau kiai yang TIDAK BERPOLITIK PRAKTIS.
Keseharian mengasuh santri, simak setoran hapalan Quran para santri tahfizh di Krapyak. Beliau adalah ahlul-Quran yg bersahaja. Sudah imami tarawih dgn bacaan 30 juz Quran di masjid pesantren sejak remaja. Dalam urusan politik praktis, beliau terbilang 'polos'.
Sebagai pengasuh utama pesantren, tentu banyak tamu sowan tiap harinya. Dan semuanya diterima. Entah itu rakyat jelata atau elit-elit politik dan pejabat negara. Semuanya disambut dan diajak ngobrol akrab, begitulah tipikal akhlak beliau.
Bahkan sudah lazim di kalangan santri Krapyak, kalau sowan harus siap diajak ngobrol dengan detil. Sebab ingatan beliau sangat tajam dan biasa bertanya detil. Entah tentang keluarga, hingga arah jalan dan nama-nama wilayah di daerah asal.
Di mata para santri adalah sosok tang lebih banyak menampilkan teladan daripada ceramah kata-kata. Beliau tidak pernah terlibat dalam urusan politik praktis, berbeda dengan adik beliau, almarhum KHR. Abdul Hafidh AQ yang memang vokal semasa hidup.
Maka ketika merilis berita bahwa ultimatum dalam 2 hari agar pilih jadi wapresnya, kami langsung tahu bahwa itu bohong. Awalnya kami ketawa geli, namun kemudian menyadari bahwa ini bakal jadi fitnah. Maka HARUS ada ralat!
Pesantren membuka pintu selebar-lebarnya kepada semua media cetak/online, terutama yg mau klarifikasi sekaligus kabarkan yang benar bahwa tidak pernah sekalipun menyatakan ultimatum agar pilih jadi cawapresnya.
Sebagai ahlul Quran yang bersahaja dan istiqamah, tentu tidak terganggu sedikitpun atas pemberitaan bohong ini. Tapi kami sebagai santri beliau HARUS menghadang persebaran berita bohong itu demi terjaganya marwah guru dan almamater kami.
Sebagai sumber kabar bohong pertama maka harus tanggung jawab dgn rilis berita baru, permohonan maaf, hapus berita lama. Lebih baik lagi jika juga klarifikasi bahwa tak pernah ultimatum utk pilih jadi cawapresnya.
Terakhir, kami himbau agar netizen jangan percaya terhadap berita bohong bahwa sebagai ulama mengultimatum untuk pilih dari jadi cawapresnya. ITU BOHONG. Demikian, harap disebarkan.
Salatiga, 8/8/2018